Minggu, 11 September 2016

Enam Candu Kerinduan Ala Pedesaan


Setelah jenuh dengan segala hiruk-pikuk kota, kembali ke alam pedesaan bisa jadi salah satu alternatif refreshing bagi kita dan keluarga. Walau dalam segala kesederhanaan dan keterbatasan, suasana pedesaan penuh makna selalu membuat rindu untuk kembali. Momen lebaran dan libur panjang biasanya dijadikan ajang mudik ke kampung halaman. Pas nih, kalian pada mudik kemana Lebaran Idul Adha? 
Berikut ini hal yang menjadi candu kerinduan pulang ke pedesaan:
1. Bangun di pagi hari menghirup udara segar. 
Aroma pagi hari pedesaan itu memabukkan. Buka jendela ataupun keluar rumah, kita akan langsung disapa sejuknya hawa alam. Bau pepohonan yang kaya oksigen bisa kita hirup bebas secara alami tanpa ada campuran polusi. Helaan napas bertasbih memuji rahmat-Nya yang tak terkira. 
2. Tak perlu khawatir bahan pengawet, bahan makanan tersaji alami. 
Kita pasti berhati-hati dalam memilih makanan, apalagi banyak pemberitaan tentang bahan pengawet yang mengancam kesehatan. Bahan makanan bebas pengawet susah didapat di perkotaan. Kalau kita di desa, alam sudah menyediakan secara berlimpah bahan pangan. Padi tinggal menunggu panen, sayuran tinggal petik, ayam tinggal potong. Prosesnya pun kita saksikan langsung, jadi benar-benar aman dikonsumsi.
3. Lekat rasa persaudaraannya.
Di pedesaan rasa persaudaraannya sungguh erat. " Sadudulur" itu istilah yang dijunjung oleh orang desa. Tetangga yang berdekatan sudah dianggap keluarga sendiri. Saling membantu, gotong royong, dan saling berbagi sudah menjadi rutinitas bagi warga di desa. Di kota, orang  sibuk dengan urusannya masing-masing tanpa tahu kondisi tetangga. 
4. Pendidikan moral dan akhlak lebih diutamakan. 
Anak-anak di perkotaan setelah beres jam sekolah biasanya disibukkan dengan berbagai les. Sedangkan di desa, saat subuh tiba anak-anak kecil sudah bangun kemudian membantu orangtua melakukan pekerjaan rumah. Siang hari pulang sekolah, mereka juga kembali membantu di rumah atau ikut ke ladang. Dan sore hari mereka mengaji di surau. Kegiatan di pedesaan lebih banyak mengasah segi kepribadian.
5. Tak banyak kontaminasi pergaulan.
Zaman sekarang yang semakin kekinian dan arus informasi berseliweran tanpa batas berdampak pada pergaulan remaja. Anak-anak ABG tanggung di daerah perkotaan terbiasa dengan hingar bingar dunia malam. Nongkrong di kafe, nonton bioskop, shopping ke mall dll. Sedangkan di pedesaan, para remaja lebih banyak melakukan kegiatan kemasyarakatan seperti panitia acara Agustusan, acara malam takbiran, gotong royong, kerja bakti dan lain-lainnya. Bahkan anak pedesaan terkadang dianggap polos, jauh dari peradaban. Padahal mereka justru punya banyak potensi.
6. Penuh kesederhanaan yang mengajarkan arti bersyukur.
Tak banyak fasilitas modern yang ditawarkan di pedesaan, namun sisi kepuasan batinnya lebih terasa. Hiruk pikuk di kota terkadang penuh intrik terutama dalam hal kerjaan. Materi terus dikejar, gengsi makin diagungkan. Hidup di desa apa adanya, lebih akrab dengan alam, lebih memaknai kehidupan. Oksigen melimpah belum banyak tercemar polusi, alam masih memberikan kedamaian, rasa persaudaraan antar warga masih erat terjaga. Saling bahu membahu memajukan desa, bukan saling menjatuhkan demi kepuasan tahta pribadi. Suara jangkrik, kodok bahkan kambing pun ikut menyemarakkan suasana pedesaan. Embun pagi hari berkolaborasi dengan turunnya kabut ikut menyambut sang mentari muncul. Maka nikmat Tuhan-Mu yang manakah yang kau dustakan?
Bagi kalian yang sedang merantau di kota, yuk pulang kampung sejenak!


Minggu, 28 Agustus 2016

Shafeea Series Hijab Instan, Tetep Modis Tanpa Ribet


Mode fashion untuk para muslimah semakin hari semakin update. Berbagai gaya hijab bermunculan, ini itu pake pentul peniti di setiap sudut kerudungnya. Aaiihh sakit tuh kalau ketusuk.heu
Tentunya saya selaku wanita muslimah pasti ingin terlihat oke, apalagi di depan suami.hehe Sang suami pasti udah hapal betul kebiasaan saya berdandan pake kerudung menghabiskan beberapa menit ke depan. Alhasil kalau mau berangkat bepergian udah dari berapa jam sebelumnya harus sudah rapi.
Ingin modis tapi ga mau ribet? Gaya hijab kebanyakan pentul? Alhamdulillah sekarang ada solusinya. Setelah berkenalan dengan Teh Aldika, sekarang ga usah repot-repot lagi pake kerudung ala ala banyak jarum di sana sini, sekarang ada Shafeea Hijab.
Shafeea Hijab merupakan hijab instan tanpa perlu pentul dan peniti yang tetep keliatan kece saat dipake. Ga sembarangan instan, tapi dirancang mengikuti arus kekinian. Walaupun instan tapi bisa dipadupadankan dengan tiga pilihan style dalam pemakaiannya. Simple kan? Hijab ini dibuat dari bahan diamond yang sedang digemari di kalangan hijaber. Bahannya mudah diatur, jatuh mengesankan, tebal, tidak menerawang dan serta tampak mewah.
Warna yang tersedia banyak pilihan warna menarik yang lagi ngetrend, yaitu berry, matcha, emerald, diamond, starnight, red velvet, taro, macaroon, candy, cuddle, squash, hazelnut. Pasti bikin pengen pesen semua warna. Warna-warnanya nya bikin love love deh pokoknya.

Masalah harga ga usah khawatir, ga bikin kantong dicibir kok.hehe Dijamin kualitasnya ga kalah banding dengan yang branded. Harga promo 58.500, untuk bulan depan harga naik.
Produk kece ini bisa dipesan dari @mataharijinggalabels.
Untuk pemesanan bisa langsung hubungi kontak
BBM 5CFB398C
LINE @VMB5192T
WA 081218963181. Menerima untuk reseller juga, ayo buruan cek ig nya @mataharijinggalabels.
Sekarang lagi ada promo Tunik yang lagi nge-hits juga neh, ada diskon 10% sampai 30 Agustus. Ayo sebelum kehabisan!!!


@mataharijinggalabels produk-produk hijab nya selalu update menjawab kepuasan konsumen.

Sabtu, 27 Agustus 2016

Sekali Mendaki, Bikin Baper Berkelanjutan. Berani Coba?


Apa enaknya mendaki? Untuk apa mendaki? Jalan kaki lewati jalan terjal, ah cape ujung-ujungnya turun lagi. Ah takut hitam kena terik matahari, susah makan, susah tidur, ga mandi berhari-hari. Pikiran seperti itu merupakan hal yang wajar bagi seorang pemula untuk memutuskan mendaki. Apalagi bagi seorang perempuan. Terlalu beresiko.
Ada pendapat yang mengatakan bahwa pendaki gunung itu adalah orang-orang yang kurang kerjaan dan tidak punya tujuan. Bagi saya mereka itu justru orang yang sudah memantapkan tujuan dengan jelas, yakni puncak gunung.
Siapa bilang naik gunung itu enaknya pas ga musim hujan, jalurnya nyaman, dan cuaca ga panas? Itu artinya dia ga naik gunung. Begitu kiranya komentar salah satu dari sahabat yang menunjukkan pendakian sesungguhnya pada saya. Coba deh sensasinya mendaki gunung ditengah hujan badai. Saya sudah mencobanya, mendaki gunung pertama kali sudah disambut dengan hujan badai. Dingin? Beku? Susah bernafas? Kena hipotermia, hampir mau mati rasanya. Berhari-hari jalan kaki melewati beberapa pos. Panas terik, hujan pun ikut menyemarakkan. Hendak hati ingin melihat awan diatas langit, apa daya hujan badai yang didapat.
Pertama kali mendaki sudah langsung diajak ke gunung tertinggi di Jawa Barat, 3078 mdpl. Nah lho, kebayang ga pemula yang belum pernah melakukan pendakian, seorang perempuan yang biasanya anak rumahan (kalau di rumah), diajak camping ke gunung. Dan lebih seru nya lagi pendakian di saat hujan, jalur pendakian semakin ke atas semakin menantang, wah udah ga karuan rasanya.
Pengalaman pertama mendaki telah banyak mengajarkan arti kehidupan. Banyak filosofisnya kata sang Abah yang mendampingi pendakian pertama saya yang penuh kontroversi. Dan terbukti, pendakian kami berhasil mengantarkan kami ke pelaminan. Lho kok bisa? Pendakian mengajarkan kami bahwa pelajaran selalu didapat justru dari usaha mengalahkan kesulitan. Alam telah menempa kami dengan keras sehingga saya belajar banyak tentang kedisiplinan, kemandirian, penguasaan diri, kesabaran, kerja sama, kepedulian dan masih banyak lagi.
Terinspirasi dari cuplikan lirik lagu Doel Sumbang "Ceuk kolot baheula mah, hirup pinuh dodoja teh lir ibarat leumpang nanjak, engke mun geus nepi ka puncak sok manggih pamandangan endah”. Liku perjalanan saya dan suami hingga meniti ke jenjang pernikahan cukup bisa dianalogikan dengan masa pendakian yang kami lewati. Alhamdulillah keindahan bersama dalam meniti Sakinah sedang kami tapaki.
Pendaki itu romantis. Walau tampangnya gahar, kulitnya hitam karena keseringan terpapar sinar matahari, tapi hati anak gunung itu lembut dan hangat. Kalau orang lain menghadiahimu dengan cokelat dan bunga atau boneka lucu, dia akan menghadiahimu foto matahari terbit di Ranu Kumbolo atau malah menyebut namamu dalam doanya di puncak-puncak tertinggi gunung yang dia daki. Romantis kan? Penuh perjuangan dan pengorbanan untuk bisa mendapatkan momen seperti itu.
Mendaki bukan sekedar gaya-gayaan, bukan pula untuk cari perhatian ataupun memikat lawan jenis. Mendakilah untuk belajar, belajar sabar, belajar tidak sombong, belajar qonaah, belajar prihatin dan masih banyak pembelajaran lainnya.
Puncak gunung bukan untuk ditaklukkan, tapi ego manusialah yang perlu ditaklukkan. Menantang diri untuk mengalahkan rasa letih demi menjejakkan kaki di puncak. Gunung yang sebegitu menjulang tinggi tidak pernah sombong, bahkan di ayat Alquran dijelaskan bahwa gunung tunduk bertasbih kepada Allah. Sedangkan kita? Sebagian manusia malah khilaf, merasa berkuasa dan lalai beribadah. Dan yang lebih miris lagi, manusia malah ada yang menyembah gunung. Astaghfirullah.
Pendaki yang baik tidak pernah merasa dirinya lebih hebat dari orang lain. Walaupun dia sudah pernah menjejakkan kaki di berbagai tanah tertinggi, dia tidak akan merasa lebih baik dari mereka yang belum. Pendakian justru menyadarkan bahwa di tengah ganasnya alam, manusia itu tidak ada apa-apanya. Dari setiap  pendakian yang telah dilewati akan menumbuhkan kebijaksanaan bagi seorang pendaki sejati.
Jalanan berliku dan berbatu, becek, licin, ranting pohon silang sana sini, ah terlalu rumit dijabarkan. Seorang pendaki tidak mau dikalahkan oleh rasa capek, malas, lapar ataupun dingin. Dia berusaha untuk terus berjuang mengalahkan semua keengganan yang muncul dari beratnya proses pendakian. Bukankah kehidupan nyata pun seperti itu? Setiap perjalanan manusia menempuh liku nya masing-masing. Sanggup untuk melewatinya atau menyerah pada keadaan?
Tertatih, terjatuh, tersungkur, tetap harus kembali bangun. Saling menguatkan, menularkan keyakinan untuk mencapai satu tujuan pasti. Bukan bersaing saling menjatuhkan untuk menginjak puncak, namun saling menggenggam bersama menggapai puncak. Sambil menahan lelah dan teriknya sengatan matahari, kita akan paham bahwa  hidup harus benar-benar diperjuangkan sesuai impian. Gak ada hidup yang pantas dijalani dengan kepuasan setengah hati. Ada puncak-puncak kehidupan yang harus kita gapai.
Perjalanan menuju puncak Ciremai harus melewati beberapa pos, setidaknya ada 6 pos. Dan setiap pos memiliki rintangan masing-masing. Makin ke atas, jalanan makin terjal dan perlu usaha ekstra untuk menjangkaunya. Susah payah untuk melangkah, terasa berat untuk menopang. Bahkan ada yang sampai jatuh dan tersungkur. Tapi karena tekad untuk menggapai tujuan terpancang kuat, maka hasil indahlah yang didapat.
Setelah berlelah-lelah menuju puncak, tengoklah pemandangan sekeliling. Dan ketakjubanpun dimulai. Melihat awan bergumul serasa ingin lompat dan tidur di lapisan awan itu. Perpaduan awan biru dan hijaunya pepohonan membuat lukisan pesona alam yang syahdu, apalagi kalau ditambah sang fajar terbit ataupun sang mentari tenggelam. Ah, terlalu indah. Maka nikmat Tuhan mu yang manakah yang kau dustakan? Tak henti berseru memanggil Asma Nya, sisi lain keindahan yang Allah ciptakan. Hati pun berdecak kagum, hingga air mata tak terasa menetes. Nyatakah ini?
Jangan lupa pula ketika mendaki haruslah menjaga kebersihan. Jangan membuang sampah sembarangan. Alam yang begitu indah jangan dikotori. Sampah selama perjalanan dibawa lagi  turun. Saat ini banyak kegiatan pencinta alam untuk membersihkan gunung dengan cara pendakian gunung sambil memungut sampah yang berserakan. Seorang pendaki sejati tak kan rela gunung yang mereka pijak dikotori.
Seorang pendaki tetap akan rindu pulang ke rumahnya. Sejauh apapun kaki melangkah, rasa rindu untuk pulang akan tetap ada. Dia akan menghargai makna “pulang”, “rumah” dan orang-orang yang berada di dalamnya. Beruntunglah kamu jika pada pelukmu lah dia selalu menemukan hangatnya rumah yang jadi sumber semangatnya untuk menuntaskan pendakian. Pada pendakian-pendakian panjangnya dia sering duduk, memandang bintang dan langit dari dataran setinggi 3000 meter diatas permukaan laut, membayangkan hangatnya rumah yang ditinggalkan. Tidak jarang rasa rindu ingin pulang jadi kekuatan saat langkahnya sudah sempoyongan melewati turunan yang curam.
Memiliki pasangan seorang pendaki akan memberikanmu hidup yang sederhana, tapi penuh arti. Percaya deh, sudah saya buktikan.hehe 
Sekali mendaki, semakin tertarik untuk pendakian selanjutnya. Mengeja hikmah dari sebuah pendakian. Belajar bersama alam, bersahabat dengan ego diri. Gunung mana lagi yang akan kita daki? Semoga masih ada kesempatan selanjutnya untuk mendaki bersama sang pendamping hidup.




SUDAH SAATNYA MOVE ON, LEJITKAN POTENSI MENULISMU!


Suka luapin unek-unek lewat tulisan? Menulis mempunyai makna tersendiri, dan bagi saya menulis adalah kebebasan dalam menyampaikan ide, perasaan, kecamuk hati, galau jiwa, dan semua yang ada di hati dikemas dalam alur pemikiran. Dengan menulis saya lebih leluasa dan lebih nyaman berekspresi.
Disaat orang disekitar banyak yang sudah memantapkan langkahnya berkarya.Lihat teman yang ini, dia sukses bisnis. Lihat teman itu, keren produktif bikin artikel. Ah bikin ngiler.Semangat untuk menulis ingin sekali saya geluti dengan serius.
Alhamdulillah dapat ajakan training menulis artikel@JoeraganArtikel. Trainingnya ONLINE!Training ini bisa diikuti oleh siapa saja, kapan saja dan dimana saja. Gampang kan? Cuma bermodalkan kuota internet, bisa online lewat gadget, dapet ilmu, sharing pengalaman, menambah silaturahmi dengan teman-teman yang super kece, potensi menulis pun semakin terasah, pundi-pundi keuangan pun Insya Allah terisi.
Sidik punya selidik, ternyata training menulis artikel yang dipunggawai oleh Ummi Aleeya ini bekerja sama dengan Indscript Training Centre (ITC) yang CEOnya itu adalah Teh Indari Mastuti. Teh Indari sangat peduli terhadap pemberdayaan perempuan di bidang bisnis dan kepenulisan. Banyak bergaul dengan ibu-ibu keren masa kini, aura positif untuk produktif akan semakin terarah dan yang paling utama tetap bisa sambil mengurus keluarga.
Tugas yang selalu diberikan pada saat training adalah hal wajib untuk melatih keterampilan menulis kita. Alhamdulillah sang coaching Ummi Aleeya selalu sabar menanti tugas yang harus kami kirimkan. Beliau pun telaten memberikan respon kepada anggota trainingnya.

Ikut training menulis artikel@JoeraganArtikel banyak plus plusnya. Selain ada tugas, kita juga diberi kesempatan mengerjakan job magang. Sambil belajar, sambil dipraktekan, sambil dapat penghasilan. Enak kan? Bukan hanya itu, training memberikan kesempatan untuk para lulusan yang terpilih menjadi penulis inti di emakpintar.asia. Ayo segera merapat yang ingin move on. Menjadi penulis produktif, bukan sekedar cuap-cuap belaka. Kenali potensi diri, hargai keahlian kamu.

Senin, 15 Agustus 2016

Masih LDR Setelah Menikah? Istri Ikut Suami Atau Suami Ikut Istri?



Mulai dari masa penjajakan (bukan penjajahan ya...hehe) saya dan mantan pemuja rahasia (alias sang suami) sudah dipisahkan oleh jarak, padahal kenal dari semenjak zaman putih abu-abu. Kuliah S1 pun di universitas yang sama tapi beda Fakultas. Namun ternyata baru klik disaat kita berdua sudah lulus dan mencari rezeki di tempatnya masing-masing. (Kamana wae atuh?) Untuk masalah kerjaan, walaupun sama-sama lulusan pendidikan, tapi ternyata saya berpindah haluan ke dunia perbankan yang tak terbersit sedikitpun untuk berkutat di bidang itu. Sedangkan sang konsultan (suami) masih istiqomah menjadi sang pendidik.
Jarak tempuh tempat kita berdua mengais rezeki lumayan agak jauh, dipisahkan oleh beberapa kota (Untungnya masih satu Provinsi, ga harus nyebrang Pulau). Namun masih ada titik temu untuk sekedar bersua. Alhamdulillah setelah melewati berbagai haru biru, sedu sedan, segala drama kehidupan, kegalauan pun pernah menghampiri, sempat pesimis untuk merengkuh tujuan bersama. Tapi Allah punya rencana indah, akhirnya 23 Juli 2016 kami sah sebagai suami istri. Pendakian pelajaran hidup selanjutnya akan dimulai. Are you ready? Ya, harus siap pastinya. Sudah menikah masih LDR juga? Setiap pasangan, idealnya pasti ingin berada dalam naungan yang sama. Setiap hari ingin ada yang mendampingi. Ya salah satu tujuan menikah adalah untuk bersama dalam segala hal. Asalkan saling menjaga dan teguh pada komitmen bersama, jarak pun bukan rintangan yang begitu berarti. Saat ini mungkin belum, tapi pada waktunya nanti, yakinlah akan ada jalannya untuk bersatu. Beberapa teman pun yang sudah lebih dulu mengecap pernikahan dan lebih senior menjalani LDR pasca menikah, Alhamdulillah sejauh ini mereka sukses dalam keutuhan. Setiap pilihan hidup pasti memiliki resiko masing-masing. Tinggal kita yakin mampu dan mau menerima konsekuensi atau tidak.
Kenapa tidak ikut suami saja? Bisa saja. Kok malah suami yang ikut istri? Memang kenapa? Tak ada batasan, karena kami saling berikhtiar untuk berada dalam satu atap. Pada hakikatnya saya akan mengikuti arahan suami. Jika memang harus ikut suami, maka saya akan pindah tapi bukan semata-mata sekedar ingin dekat bersama suami tanpa ada landasan perencanaan. Toh pada dasarnya saya juga ingin berhijrah ke daerah tempat suami bekerja. Tapi saya ingin menyiapkan bekal untuk kepindahan itu. Pindah kerja itu bukan sekedar masalah pindah tempat saja, ada segudang seluk beluk,printil ini itu dan lain sebagainya yang perlu dipertimbangkan masak-masak. Terkesan terlalu pemikir? Ya sudah sewajarnya kita berpikir sebelum bertindak.
Tinggal memutuskan jadi ibu rumah tangga saja, kenapa ribet mikir? Mungkin ada celotehan seperti itu. Walaupun tetap bekerja, bukankah ketika berada di rumah, seorang istri tetaplah sebagai ibu rumah tangga? Orang tua dan keluarga adalah contoh panutan terdekat, mungkin itu yang membuat pola pikir saya menyikapi setiap persoalan dengan pandangan luas ditambah memperhatikan pengalaman orang sekitar.
Kudu yakin Allah pasti "ngarizkian". Itulah yang biasa suami utarakan dari sebelum menikah sampai sekarang ketika saya mulai gundah gulana memikirkan baiknya harus bagaimana.
Setelah menikah, alhamdulillah suami mendapat tawaran mengajar di daerah yang lebih memungkinkan untuk kami tinggal satu atap, tapi terlalu mendadak dan penuh konflik batin dengan segala resiko. Alhasil, suami dan saya pun ikut galau. Keberuntungan setelah menikah? Inikah jawabannya? Atau kah ujian?Manakah yang akan dipilih? Allah sedang merencanakan skenario yang indah untuk kita, insyaallah, Aamiin.
Pada akhirnya, Insyaallah kita akan berkumpul bersama. Dan semoga berkumpul juga kelak di JannahNya.


  

Selasa, 22 Desember 2015

Aku dan Duniaku

Hasrat untuk menulis tiba-tiba membuncah, bukan fiksi tapi nyata ingin berbagi. Pengalaman sendiri, anggap sebagai muhasabah diri. Menjelang penghujung tahun, menyambut awal tahun baru. Tak ada salahnya ku pikir tuk merefleksikan setiap hikmah kehidupan. Dengan segala kerendahan hati, mohon maaf bila ada yang tidak berkenan. Ini hanya sekedar menuangkan kata lewat tulisan, tak ada embel-embel apapun, mohon disikapi dengan bijak, bukan untuk dibajak apalagi dihujat.  Terima kasih.

Kuawali dengan bismillah, semoga kebaikan selalu tercurah untuk kita semua.

Cerita awal dari bayi sampai dewasa simpan untuk garapan selanjutnya saja, syukur-syukur bisa dijadikan biografi. Jadi kuputuskan mengawali rentetan cerita dari saat SMA saja , maaf kalau tidak sesuai kaidah Bahasa Indonesia, ejaan acakadul, gaya tidak formal, hanya  sekedar celoteh cuap-cuap, tapi semoga tak mengurangi isi hikmah.

Setelah lulus SMP, hendak kemana melanjutkan pendidikan? Ada tawaran program PSUB (Penerimaan Siswa Unggul Berprestasi )  kalau tidak salah namanya, yang diselenggarakan SMA Negeri 1 Majalengka. Ya sepertinya pernah berkunjung ke sekolah itu saat ada perlombaan Bahasa Inggris tingkat SMP. Tak ada salahnya coba ikut daftar. Tanpa tau riwayat dan profil sekolahnya, sekedar tahu info katanya sekolah favorit. Diterima syukur Alhamdulillah, kalau ternyata belum rezekinya ya tak apa sekolah di SMA sebelah SMP saja pikirku. Bukan jaminan, tempat sekolah favorit  jadi acuan masa depan. Semua prestasi dihasilkan oleh individu itu sendiri. Ya walaupun memang fasilitas pun bisa menunjang, dan bisa jadi makin berkembang jika ditempat yang lebih baik. Singkat cerita, berdasarkan hasil pengumuman Alhamdulillah aku diterima di SMA 1 Majalengka.

Jarak dari rumah agak lumayan jauh, perlu beberapa kali transportasi. Nampaknya perlu ngekost, tapi karena kebetulan ada paman dan bibi yang tinggal lebih dekat jaraknya ke sekolah. Jadilah anak rantau ceritanya, walau masih rantau abal-abal.

Mengawali perjalanan SMA dengan acara kegiatan MOS (Masa Orientasi Sekolah). Kok pake persyaratan aneh-aneh segala, ini itu apa namanya kaya teka-teki, bikin aksesoris apalah-apalah. Paman dan bibi pun ikut terlibat, bantu menyiapkan sesajen buat ritual tahunan yang mengatasnamakan masa pengenalan sekolah, dengan iming-iming peralihan perlu adaptasi. Duh rempong bener,,,,
Anggap saja kegiatan  MOS berakhir, cerita lain menunggu. Duh, dapet kelas dimana, tar temennya siapa, nanti belajarnya gimana. Si aku yang minderan orangnya, pendiem,kikuk dengan lingkungan baru makin ga karuan lihat orang lain yang kebanyakan orang “kota”, sedangkan saya hanyalah anak bawang dari pedesaan.

Ternyata ada seleksi untuk kelas RSNBI (Rintisan Sekolah Nasional Berstandar Internasional), ya sebelumnya pernah dengar SMA ini ada kelas unggulan nya. Merasa tertantang, ingin mengasah kemapuan juga. Di satu sisi minder sangat, tapi di sisi lain ingin membuktikan bahwa saya bisa bersaing dengan mereka anak-anak “kota”. Sebelum tes, saya mencoba belajar sebisanya, minjem buku ke saudara karena buku-buku sebelumnya ada dirumah, tak ada waktu untuk pulang ke rumah.
Dengan meminta doa dari kedua orang tua dan keluarga, bismillah saya ikut tes. Ada tes tertulis, dan ada juga tes praktek. Tes prakteknya pasang komponen komputer agar bisa nyala, untung ga konslet. Terombang-ambing antara  pesimis dan dan ingin lolos, itu yang selalu melanda diri.

Disaat merasa pesimis, Allah memberikan amanah, Alhamdulillah lolos dan masuk kelas eksklusif (ceritanya). Rentetan tuntutan ini itu pun bermunculan, pulang lebih sore dibanding yang lain, tugas lebih dari yang lain,ya ditempatkan di ruangan yang lebih dari yang lain di Laboratorium Bahasa. Saking eksklusifnya, justru malah terasa terisolasi kurang bersosialisasi dengan kelas lain, itu yang saya rasa ditambah karena kurang membuka diri dan berinteraksi dengan teman lainnya lewat organisasi atau ekskul lainnya.
Wow, begini ya rasanya belajar di kelas RSNBI. Lirik kanan kiri semuanya keliatan berbobot. Mulai lah mencari teman yang sekiranya sehati untuk sama-sama berjuang dan bertahan.Dan ya Alhamdulillah memiliki genggong sepermainan yang menghiasi warna kehidupan. Awal-awal waktu sungguh membuat kepala pening. Pulang sore, PR numpuk, ini itu kudu in English, ada English Day, bla bla bla dll. Mampukah aku bertahan? Sanggupkah untuk berlanjut? Akankah terus berjuang? Ataukah terhenti?

Sisi rapuhku kembali hadir, air mata pun mengiringi. Hendak bagaimana ini??? Perlu rasanya untuk mendapat pencerahan, ku beranikan bicara pada orang tua. Mengadu pada Ilahi, hanya itu jalan keluarnya jawab mereka. Baiklah, akan ku temukan jalan terbaiknya dengan bercumbu menengadah memohon padaNya. Semoga Allah segera memberi jawaban.

Selang beberapa waktu, sempat ku utarakan untuk pindah sekolah. Ya aku ingin pindah sekolah saja. Entah apa yang membuatku begitu tertekan sehingga merasa  pada titik bawah. Semoga keputusan ini bukan sekedar emosi sesaat. Satu semester pun terlewati berada di kelas RSNBI.  Kecamuk hati pun kembali mendera di saat pembagian raport. Pesimis, takut,khawatir,sedih, campur aduk. Dan disebutkan lah yang menempati rangking teratas. Ah, sudahlah aku tak mungkin berada di deretan atas. Dan sungguh menghentakkan pikir, saat namaku disebut. Ya  namaku disebut setelah yang pertama.

Allah kembali menegur ku, disaat ku merasa terbawah, Allah memberikan jawaban terindah. Hendak kemana kau berjalan sekarang? ?? Masih mengelak? Subhanallah walhamdulillah… Allah memeluk ku dengan Kuasanya. Air mata penuh haru tak mampu dibendung, tumpah ruah segala  kecamuk hati. Allah kembali memberikan amanahNya, mana mungkin aku ingkari. Mempertahankan lebih sulit daripada meraih,tapi saya harus tetap berusaha jadi yang terbaik.

Keinginan untuk pindah sekolah pun akhirnya pudar, yang harus dibenahi justru agar bisa tetap bertahan, bukan melarikan diri. Baiklah, babak baru pun dimulai. Mulai dinikmati, walau lelah kadang menyapa. Beranikan diri mengexplore kemampuan, suka pelajaran eksak, kecuali Fisika. Sepertinya senang dengan Biologi, maka coba ikut segala tes berbau Biologi. Alhamdulillah, pernah menorehkan prestasi menjadi kebanggaan penuh rasa syukur. Tapi ya saya masih tetap minder, mungkin sudah karakternya.

Singkat cerita,pengalaman di SMA akan berakhir harus berlanjut ke jenjang selanjutnya. Kebingungan pun melanda kembali. Hendak kemana kau wahai diri? Sejak kecil, cita-cita yang sering didengungkan adalah Dokter. Ya setiap anak pun mungkin bercita-cita sama. Oke, mari gapai cita-cita. Kuliah kedokteran, bismillah. Dimana? UGM? UI? Wah ketinggian ga ya? Pesimis duluan kumat. Ah ada kenalan di UIN Jakarta katanya ada Kedokteran disana. Libur sekolah pun dipakai untuk survey, sekalian silaturahmi sama keluarga di Jakarta dan bertemu teman di UIN Jakarta. Orang tua pun mengizinkan aku untuk berangkat liburan tahun baru di Jakarta. Diantar saudara ke kampus UIN, sampai disana masuk ke ruangan apa namanya entah. Bertemu dengan salah satu staff, tak mau melewatkan kesempatan beranikan bertanya info Jurusan Kedokteran, minta brosur. Sayangnya UIN Jakarta tidak kerja sama dengan SMA saya waktu itu, jadi tidak ada seleksi intern.

Bismillah ambil Kedokteran. Sambil menunggu kelulusan dan  seleksi SPMB, ada banyak penawaran tes dari berbagai universitas. Niat awal saya, kalau tidak Kedokteran ya apapun yang masih lingkup dunia kesehatan. Tiba-tiba ada pendaftaran PMDK dari UPI, ragu tapi ya sudahlah ikut saja, orang lain sudah banyak daftar sana sini sedangkan saya belum. Pilihan pun jatuh pada jurusan Pendidikan Biologi, ya ilmu dasar untuk dunia kesehatan gumamku. Toh saya memang suka Biologi, makin termotivasi dengan salah satu guru Biologi yang jadi inspirasi saya untuk menjadi guru, guru yang mengayomi disenangi para murid. Daftar ke Poltekkes Bandung pun pernah diikuti, namun tidak dilanjut tes.

Kelulusan sudah diumumkan, semua disibukkan untuk mempersiapkan tes SPMB. Saya pun daftar bimbel, rencananya mau ikut tes SPMB, siap-siap untuk UGM. Selang beberapa hari kemudian, pengumuman PMDK UPI pun keluar. Dan nama saya tertulis lolos. Tahap selanjutnya harus daftar ulang. 

Lagi-lagi dihadapkan pada pilihan yang harus dipilih, dilema, bingung, bimbang. Keyakinan pun diuji dengan munculnya pilihan baru. Lanjut daftar ulang UPI, atau menunggu SPMB memilih Kedokteran??? UPI? Tanpa tes sudah bisa langsung duduk manis, kurang bersyukur apalagi? Kedokteran? Harus melewati serangkaian tes, entah keterima atau tidak, dan biaya nya pun.... Wow,,, Heeuumm,,, mikir lagi... Dan pada akhirnya memilih Jurusan Pendidikan Biologi UPI. Ya bismillah,,,

Daftar ulang sendirian, planga plongo kesana kesitu sendiri, bejubel padat penuh merayap yang pada daftar ulang. Alhamdulillah, memilih UPI memberikan energi positif. Berawal dari pertemuan dengan kakak kelas yang dikira kakak kembar,yang katanya mirip sama beliau. Subhanallah,,, tersirat hasrat saya ingin seperti beliau. Akhwat luar biasa, cerdas,aktif, inspiratif pokoknya bagi saya. Alhamdulillah dipertemukan dengan beliau.

Salah satu perubahan yang saya lakukan adalah penampilan. Saya coba mengumpulkan rok, ya saya akan menggunakan rok ke kampus, nampak terlihat lebih anggun. Dan memang sudah diniatkan untuk belajar lebih baik lagi tentang Islam. Bismillah, babak baru pun dimulai.... Inti cerita saja ya, tak perlu banyak diceritakan karena terlalu panjang dan lama untuk mengulik kehidupan saat  kuliah apalagi membeberkan semua kisah.

Kuliah di Biologi, syukur alhamdulillah. Banyak pembelajaran, mengetahui seluk beluk sistem tubuh manusia,hewan, dan tumbuhan. Belajar anatomi, fisiologi, botani, zoologi, dll banyak lah macamnya mata kuliah yang diambil. Dan woooowwww,,, subhanallah walhamdulillah. Banyak kekuasaan Allah yang membuat tercengang. Ada kata-kata menarik yang menggelitik, “Cintailah Biologi, karena dengan mencintai Biologi maka kamu akan mencintai kehidupan”. Ya itu benar, saya alami sendiri. Walau dengan segala macam rintangan di setiap semesternya, namun akhirnya bisa telewati dengan baik. Pengalaman kuliah lapangan, panas-panasan, nyemplung ke air, masuk ke hutan dsb. Itu pengalaman sangat berkesan. Karena jurusan nya bertitle kan “Pendidikan”, maka belajar pula lah tentang seluk beluk mendidik. Guru bukan sekedar mengajar menyampaikan materi atau transfer ilmu semata, tapi ada ini itu dll. Bukan profesi yang gampang namun pekerjaan yang mulia. Subhanallah....



Singkat cerita, ujian skripsi beres tinggal menunggu selebrasi wisuda. Wah, melamar kerja dimana ya. Teman-teman yang lain sudah banyak yang duluan bekerja paruh waktu di bimbel. Tapi entah kenapa saya kurang berminat.

Orang tua pernah berpesan, lebih baik cari tempat mengajar di kota saja, jangan kembali ke tempat asal. Atau sekalian langsung melanjutkan ke jenjang s2. Heeuumm,,, menarik. Baiklah akan saya coba. Ya saya berencana lanjut s2, UPI atau ITB?? Coba dua2nya saja pikirku. Alhamdulillah ada sedikit celah menuju realisasi s2 itu. Salah satu dosen pembimbing memberikan semacam proyek penelitian beliau, saya dan teman saya diberikan tugas untuk membantu mengolah data. Heuumm,,, lumayan bisa meminta rekomendasi beliau juga untuk persyaratan daftar s2. Selain itu, beres revisi skripsi, tiba-tiba salah satu dosen penguji memanggil dan meminta  bantuan untuk menjadi semacam asisten praktikum di kelas pasca sarjana. Alhamdulillah.... Menambah wawasan dan pengalaman. Sambil menunggu wisuda, sampingan ikut jadi asisten praktikum di kelas pasca sarjana, dan mendapat info lowongan mengajar di sebuah sekolah swasta di Cimahi. Alhamdulillah,,,satu per satu harapan terjawab pikirku, soalnya pernah terujar ingin mengajar di Bandung atau sekitar Cimahi.

Waktu itu jadwal ngajar di sekolah hanya hari Senin dan Rabu dan Selasa jadi asisten praktikum, 3 hari stay di Bandung selebihnya aku pulang ke rumah dan mengajar di SD tempat ayah dinas. Kebetulan kedua orang tua sedang melaksanakan ibadah haji, jadi masih bolak-balik Bandung-Majalengka, ngurus rumah dan adik. Pulang pergi Bandung-Majalengka setiap minggu tak dirasa cape karena ada tanggung jawab yang diemban. Sekitar 2 bulan menjalani peran sebagai guru mengajar di sekolah, ada yang memberi info lowongan kerja di Bank untuk penempatan di Cirebon. Heuumm,, coba saja pikir ku. Iseng-iseng nambah pengalaman merasakan menjadi pelamar kerja. Tak lupa titip doa kepada orang tua yang sedang beribadah di Mekkah. Doa mereka pastilah yang terbaik untuk anak-anaknya. Syukur alhamdulillah momennya terasa pas. Semoga segala doa yang dipanjatkan diijabah Allah. Dan ternyata seleksi di Bank pun satu per satu dilewati. Sempat terlupakan karena pengumuman lumayan cukup lama, dan saya pun sudah mulai menikmati peran jadi guru. Wacana akan dijadikan guru tetap di sekolah tersebut pun sudah didengungkan. Jadwal mengajar pun mulai padat, karena mendapat lebih banyak kelas dan 2 mata pelajaran yang dipegang, Biologi dan Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH).

Pada suatu hari, saat masih di sekolah tiba-tiba mendapat telepon, panggilan dari Bank di Cirebon. Dan ternyata besok harus hadir disana. Bingung lah, disini masih ada yang harus dibereskan, dan kebetulan diminta untuk membeli alat praktikum dari salah satu dosen UPI, dan saya sudah membuat janji dengan beliau. Tapi ya akhirnya cari cara untuk bisa izin besok. Setelah urusan di sekolah beres, saya pun langsung pulang, siap-siap perjalanan malam Bandung-Majalengka dan esoknya dilanjut ke Cirebon.

Singkat cerita, akhirnya diterima di salah satu Bank dan menjalani rutinitas di kantor yang pekerjaannya masih sangat asing. Bukan hal yang mudah untuk beradaptasi lagi dengan keasingan. Pesimis? Rendah diri? Malu? Ya semuanya dirasakan. Tumplek semua rasa ga karuan. Bener ga kerja disini teh.Yakin bisa gitu? Ga dipungkiri, menangis dan merasa dikucilkan pernah dialami. Sudahlah, beres kontrak 1 tahun saya resign saja. Siapkan lagi administrasi untuk pendaftaran s2. Heuuummm,,, Tapi ternyata rencana pun berubah. Mungkin memang benar, setelah merasakan dunia kerja terkadang godaan untuk lanjut pendidikan makin terasa. Sudah malas mengurus persyaratan, harus minta rekomendasi dosen, harus ini itu, dll. Tapi saya masih ingin tetap lanjut s2, ga mau ketinggalan jauh. Dan pada akhirnya iseng coba daftar di sebuah perguruan tinggi swasta. Kerjaan masih ingin tetap jalan, tapi pendidikan pun ga kalah juga. Syukur alhamdulillah... Walau semuanya harus serba perlintasan, yang terpenting saya masih ingin banyak belajar. Jarak Cirebon-Bandung pun harus selalu ditempuh setiap minggu. Segala cerita kemacetan, dan perjalanan yang tidak mengenakan sudah ditelan. Weekend tersita oleh perjalanan, kumpul bersama keluarga pun sungguh sulit. Tapi alhamdulillah bukan sekedar kuliah biasa yang penuh idealime dan ego, banyak pelajaran yang bisa dipetik, sharing pengalaman, menambah silaturahmi memperat rasa kekeluargaan. Dan ternyata ga kerasa udah di penghujung acara, insya allah harus segera dituntaskan. Banyak list yang ingin direalisasikan.


Di tempat kerja pun ternyata Allah kembali menyapa lewat KuasaNya, tahun pertama setelah menjadi pegawai tetap, disaat merasa terpuruk dengan rutinitas pekerjaan, penilaian IKP dan segala seluk beluk tentang layanan menunjukkan hasil yang mencengangkan bagi saya. Syukur alhamdulillah mendapatkan hasil memuaskan. Dan tahun ini, syukur alhamdulillah mendapat kepercayaan untuk menerima penghargaan “The Service Excellence 2015”. Allah memberikan kesempatan untuk mengikuti seleksi (Apresiasi Layanan Cabang) ALC  2015. Semoga hadiah Umroh bisa diperjuangkan. Bismillah.


Tak pernah ada yang tau ujungnya seperti apa, yang terpenting saat ini, saya berusaha sebaik mungkin menjalani kehidupan yang telah dipilih. Hadapi dengan penuh kesyukuran agar semakin berkah. 

Kamis, 09 April 2015

Dimensi Diri

Terbiasa menyamarkan dengan tersirat, hingga terasa sulit membuat nyata dalam tersurat. Entah enggan,entah segan ataupun sungkan. Atau mungkin aq lebih nyaman, hanya bisa menorehkan lewat rentetan imajinasi. Terasa lega tak berbatas dalam kata, terpenjara tak bebas dalam ucap. Segala kontradiksi adalah ciri khas. Setiap kecamuk adalah seni.
Dimensi hati dalam frekuensi yg sama srg dirasakan. Kongruennya pemikiran dalam ruang yg berbeda. Selalu ada persinggungan antara keberadaan qt. Berjuang tuk menyatukan, berusaha tuk mewujudkan. Tak kan mudah, tp tak ada yg sulit.
Ku titipkan gemuruh harapan dalam genggaman KuasaNya, ku letakkan tumpukan asa dalam cengkraman RidhoNya. Walau diri tersungkur, merasa tak pantas,KasihMu yg menyadarkan.

Jumat, 23 Januari 2015

Muara 1



Seperti yang kau bilang, “aku tak seperti kemarin”. Babak baru pun dimulai. Bukan lagi bayang semu yang harus kau hiraukan, jika nyata memang kau pilih. Tantangan nyata hadir, liku pun terasa. Sanggupkah??? Pernah kutawarkan tuk mengalihkan kemudi, namun kau seolah tak bergeming. Kerumitan yang bermunculan menguji mu, mengantarkan pada keteguhan, keyakinan, dan kesetiaan. Akankah???

Doa penuh dilafalkan dalam diam, mohon dengan segala kerendahan, tunjukkan jalan yg harus ditempuh. Tiada daya upaya selain pertolonganNya, berusaha memperbaiki, berserah dalam pelukanNya. Niat hati ingin memeluk erat  janji suciMu, apa daya Engkau Maha Kuasa. Pantaskan kami meraih keberkahan, kuatkan kami menjemput keikhlasan.

Marah seolah hanya sekilas menyapa, kau mampu redamkan dengan sabarmu. Semoga terus begitu, bukan sekedar awal yang indah. Rindu seakan selalu menaungi, kau bisa hadirkan dalam setiap hela. Semoga terus begitu, bukan hanya sepenggal prolog. Tangis ku sampaikan, tawa kau suguhkan. Melengkapi? Iya bagi ku.

Lelah tuk mencari lagi, malas tuk berpaling, karena tetap merujuk kepadamu, aku ingin berlabuh di buaian kasihmu. Bolehkah??? Nampak mudah bagi mereka, mengapa terasa sungkan bagi ku. Izinkan aku tuk mengeja kesabaran, merunut keikhlasan,  

Jumat, 16 Januari 2015

Sisi Lain

Sepulang rutinitas kerja, disaat langit masih nampak cerah, ku putuskan bergegas pulang ke rumah bukan ke kostan, mumpung lagi pulang cepat. Ditengah perjalanan, seperti biasa berkemudikan elf, aku duduk di dekat kaca mobil. Tiba-tiba nampak panorama menakjubkan,,, antara gunung, lembayung, awan, matahari. Dan akhirya menjadi stimulus untuk merangkai kata. Mari berceloteh.

Itukah gunung yang pernah kita daki??? Menjulang tinggi, tampak gagah saat ditatap. Rona lembayung merah merekah menyemarakkan lukisan sang Maha Agung. Awan bergumul  tak beraturan, menambah kecantikan panorama senja. Sayang tak mengabadikan dalam potret nyata.
Benarkah kita pernah berada di puncak sana??? Heran, terperangah, seakan tak percaya, berjam-jam berjalan mendaki menuju puncak setinggi itu. Dan ternyata kita sanggup menempuhnya. Lelah pasti, capek iya. Tapi karena tujuan kita sama. Semua bisa teratasi. Bukan keluhan lagi yg dikumandangkan, namun lantunan ketakjuban dan kemenangan yang dikidungkan. 
Menarik, tertantang untuk mendaki puncak-puncak gunung lain selanjutnya. Tiap jalan yang ditempuh menawarkan rintangan yang beragam, tiap puncak menyuguhkan pesona berbeda. Ketika kaki sudah melangkah, derap langkah melaju, melaju terus menyusuri alur pencapaian. Ketika mulai merasa payah, kaki terasa kaku, ayunan langkah terasa berat, nafas pun terengah-engah. Coba berhenti sejenak, sekedar berhenti tuk menyerap energi lebih. Disaat terkulai, yakinkan tuk terus melangkah. Ataukah akan berhenti kembali berbalik mundur??? Sudah sejauh ini, akankah kau lewatkan begitu saja??? Ayolah,,, yang layak diperjuangkan, jangan ragu tuk saling menguatkan. Merugi lah yang berguguran tanpa adanya berjuang hingga batas. Di atas sana menunggu untuk kau lambaikan tanda kemenangan.
Siap untuk bersusah payah??? Bersusah payah untuk menjangkau kemenangan. Semakin kau menghargai proses,semakin kau mendapatkan hakikat hasilnya. Mungkin hari ini kita harus melewati liku, tak mengapa. Yakinlah esok telah bersiap menyambutmu untuk keindahan.


Hikmah Mendaki (Ciremai, 26-28 Desember 2014)








Mendaki bukan bermaksud ingin menaklukan, bukan merasa menyombongkan. Bijak lah dalam menyimak hikmah, mengurai makna.  Apa yang akan kau sombongkan? Gunung sebegitu menjulang, tunduk patuh pada Sang Kuasa. Sedangkan kita? Sering kali lupa. Menempuh jalanan menanjak,terjal, berliku,penuh kerikil batu, akar melintang. Tertatih, terjatuh, tersungkur, tak mengapa. Satu tujuan pasti. Saling menguatkan, menularkan keyakinan. Bukan bersaing saling menjatuhkan untuk menginjak puncak, namun saling menggenggam bersama menggapai puncak. Berbagi makan seadanya namun nikmat sungguh terasa berbumbukan kebersamaan. Berpegangan saling menyemangati. Sejauh mata memandang, hamparan awan dan berjuta keindahan terpampang nyata. Segala lelah, keluh, kesah, menyerah, terbayar lebih oleh rangkaian panorama tak berujung.  Memandang dari atas, menundukkan hati menatap luasnya limpahan KuasaNya. Lega beralaskan damai menyaksikan rentetan kerdilnya Berbagai jalur yg berliku harus dilewati, berbagai rintangan harus diterjang. Hujan, badai, panas, dingin, ikut meramaikan suasana. Mampukah bertahan, atau menyerah turun? 

Hidup ini tak selamanya mulus, Allah akan menguji dengan segala cara yang tak pernah bisa kita bayangkan. Namun percayalah Allah mempersiapkan kado terindah bagi siapa yg lolos akan ujianNya. Tetap khusnudzon, sabar,ikhlas, ikhtiar dan berdoa.

To be continued