Jumat, 23 Januari 2015

Muara 1



Seperti yang kau bilang, “aku tak seperti kemarin”. Babak baru pun dimulai. Bukan lagi bayang semu yang harus kau hiraukan, jika nyata memang kau pilih. Tantangan nyata hadir, liku pun terasa. Sanggupkah??? Pernah kutawarkan tuk mengalihkan kemudi, namun kau seolah tak bergeming. Kerumitan yang bermunculan menguji mu, mengantarkan pada keteguhan, keyakinan, dan kesetiaan. Akankah???

Doa penuh dilafalkan dalam diam, mohon dengan segala kerendahan, tunjukkan jalan yg harus ditempuh. Tiada daya upaya selain pertolonganNya, berusaha memperbaiki, berserah dalam pelukanNya. Niat hati ingin memeluk erat  janji suciMu, apa daya Engkau Maha Kuasa. Pantaskan kami meraih keberkahan, kuatkan kami menjemput keikhlasan.

Marah seolah hanya sekilas menyapa, kau mampu redamkan dengan sabarmu. Semoga terus begitu, bukan sekedar awal yang indah. Rindu seakan selalu menaungi, kau bisa hadirkan dalam setiap hela. Semoga terus begitu, bukan hanya sepenggal prolog. Tangis ku sampaikan, tawa kau suguhkan. Melengkapi? Iya bagi ku.

Lelah tuk mencari lagi, malas tuk berpaling, karena tetap merujuk kepadamu, aku ingin berlabuh di buaian kasihmu. Bolehkah??? Nampak mudah bagi mereka, mengapa terasa sungkan bagi ku. Izinkan aku tuk mengeja kesabaran, merunut keikhlasan,  

Jumat, 16 Januari 2015

Sisi Lain

Sepulang rutinitas kerja, disaat langit masih nampak cerah, ku putuskan bergegas pulang ke rumah bukan ke kostan, mumpung lagi pulang cepat. Ditengah perjalanan, seperti biasa berkemudikan elf, aku duduk di dekat kaca mobil. Tiba-tiba nampak panorama menakjubkan,,, antara gunung, lembayung, awan, matahari. Dan akhirya menjadi stimulus untuk merangkai kata. Mari berceloteh.

Itukah gunung yang pernah kita daki??? Menjulang tinggi, tampak gagah saat ditatap. Rona lembayung merah merekah menyemarakkan lukisan sang Maha Agung. Awan bergumul  tak beraturan, menambah kecantikan panorama senja. Sayang tak mengabadikan dalam potret nyata.
Benarkah kita pernah berada di puncak sana??? Heran, terperangah, seakan tak percaya, berjam-jam berjalan mendaki menuju puncak setinggi itu. Dan ternyata kita sanggup menempuhnya. Lelah pasti, capek iya. Tapi karena tujuan kita sama. Semua bisa teratasi. Bukan keluhan lagi yg dikumandangkan, namun lantunan ketakjuban dan kemenangan yang dikidungkan. 
Menarik, tertantang untuk mendaki puncak-puncak gunung lain selanjutnya. Tiap jalan yang ditempuh menawarkan rintangan yang beragam, tiap puncak menyuguhkan pesona berbeda. Ketika kaki sudah melangkah, derap langkah melaju, melaju terus menyusuri alur pencapaian. Ketika mulai merasa payah, kaki terasa kaku, ayunan langkah terasa berat, nafas pun terengah-engah. Coba berhenti sejenak, sekedar berhenti tuk menyerap energi lebih. Disaat terkulai, yakinkan tuk terus melangkah. Ataukah akan berhenti kembali berbalik mundur??? Sudah sejauh ini, akankah kau lewatkan begitu saja??? Ayolah,,, yang layak diperjuangkan, jangan ragu tuk saling menguatkan. Merugi lah yang berguguran tanpa adanya berjuang hingga batas. Di atas sana menunggu untuk kau lambaikan tanda kemenangan.
Siap untuk bersusah payah??? Bersusah payah untuk menjangkau kemenangan. Semakin kau menghargai proses,semakin kau mendapatkan hakikat hasilnya. Mungkin hari ini kita harus melewati liku, tak mengapa. Yakinlah esok telah bersiap menyambutmu untuk keindahan.


Hikmah Mendaki (Ciremai, 26-28 Desember 2014)








Mendaki bukan bermaksud ingin menaklukan, bukan merasa menyombongkan. Bijak lah dalam menyimak hikmah, mengurai makna.  Apa yang akan kau sombongkan? Gunung sebegitu menjulang, tunduk patuh pada Sang Kuasa. Sedangkan kita? Sering kali lupa. Menempuh jalanan menanjak,terjal, berliku,penuh kerikil batu, akar melintang. Tertatih, terjatuh, tersungkur, tak mengapa. Satu tujuan pasti. Saling menguatkan, menularkan keyakinan. Bukan bersaing saling menjatuhkan untuk menginjak puncak, namun saling menggenggam bersama menggapai puncak. Berbagi makan seadanya namun nikmat sungguh terasa berbumbukan kebersamaan. Berpegangan saling menyemangati. Sejauh mata memandang, hamparan awan dan berjuta keindahan terpampang nyata. Segala lelah, keluh, kesah, menyerah, terbayar lebih oleh rangkaian panorama tak berujung.  Memandang dari atas, menundukkan hati menatap luasnya limpahan KuasaNya. Lega beralaskan damai menyaksikan rentetan kerdilnya Berbagai jalur yg berliku harus dilewati, berbagai rintangan harus diterjang. Hujan, badai, panas, dingin, ikut meramaikan suasana. Mampukah bertahan, atau menyerah turun? 

Hidup ini tak selamanya mulus, Allah akan menguji dengan segala cara yang tak pernah bisa kita bayangkan. Namun percayalah Allah mempersiapkan kado terindah bagi siapa yg lolos akan ujianNya. Tetap khusnudzon, sabar,ikhlas, ikhtiar dan berdoa.

To be continued