Apa enaknya
mendaki? Untuk apa mendaki? Jalan kaki lewati jalan terjal, ah cape
ujung-ujungnya turun lagi. Ah takut hitam kena terik matahari, susah makan,
susah tidur, ga mandi berhari-hari. Pikiran seperti itu merupakan hal yang
wajar bagi seorang pemula untuk memutuskan mendaki. Apalagi bagi seorang
perempuan. Terlalu beresiko.
Ada pendapat
yang mengatakan bahwa pendaki gunung itu adalah orang-orang yang kurang kerjaan
dan tidak punya tujuan. Bagi saya mereka itu justru orang yang sudah
memantapkan tujuan dengan jelas, yakni puncak gunung.
Siapa bilang
naik gunung itu enaknya pas ga musim hujan, jalurnya nyaman, dan cuaca ga
panas? Itu artinya dia ga naik gunung. Begitu kiranya komentar salah satu dari
sahabat yang menunjukkan pendakian sesungguhnya pada saya. Coba deh sensasinya
mendaki gunung ditengah hujan badai. Saya sudah mencobanya, mendaki gunung pertama
kali sudah disambut dengan hujan badai. Dingin? Beku? Susah bernafas? Kena
hipotermia, hampir mau mati rasanya. Berhari-hari jalan kaki melewati beberapa
pos. Panas terik, hujan pun ikut menyemarakkan. Hendak hati ingin melihat awan
diatas langit, apa daya hujan badai yang didapat.
Pertama kali
mendaki sudah langsung diajak ke gunung tertinggi di Jawa Barat, 3078 mdpl. Nah
lho, kebayang ga pemula yang belum pernah melakukan pendakian, seorang
perempuan yang biasanya anak rumahan (kalau di rumah), diajak camping ke
gunung. Dan lebih seru nya lagi pendakian di saat hujan, jalur pendakian
semakin ke atas semakin menantang, wah udah ga karuan rasanya.
Pengalaman
pertama mendaki telah banyak mengajarkan arti kehidupan. Banyak filosofisnya kata
sang Abah yang mendampingi pendakian pertama saya yang penuh kontroversi. Dan
terbukti, pendakian kami berhasil mengantarkan kami ke pelaminan. Lho kok bisa?
Pendakian mengajarkan kami bahwa pelajaran selalu didapat justru dari usaha
mengalahkan kesulitan. Alam telah menempa kami dengan keras sehingga saya
belajar banyak tentang kedisiplinan, kemandirian, penguasaan diri, kesabaran,
kerja sama, kepedulian dan masih banyak lagi.
Terinspirasi
dari cuplikan lirik lagu Doel Sumbang "Ceuk kolot baheula mah, hirup pinuh
dodoja teh lir ibarat leumpang nanjak, engke mun geus nepi ka puncak sok
manggih pamandangan endah”. Liku perjalanan saya dan suami hingga meniti ke
jenjang pernikahan cukup bisa dianalogikan dengan masa pendakian yang kami lewati.
Alhamdulillah keindahan bersama dalam meniti Sakinah sedang kami tapaki.
Pendaki itu
romantis. Walau tampangnya gahar, kulitnya hitam karena keseringan terpapar
sinar matahari, tapi hati anak gunung itu lembut dan hangat. Kalau orang lain
menghadiahimu dengan cokelat dan bunga atau boneka lucu, dia akan menghadiahimu
foto matahari terbit di Ranu Kumbolo atau malah menyebut namamu dalam doanya di
puncak-puncak tertinggi gunung yang dia daki. Romantis kan? Penuh perjuangan
dan pengorbanan untuk bisa mendapatkan momen seperti itu.
Mendaki bukan
sekedar gaya-gayaan, bukan pula untuk cari perhatian ataupun memikat lawan
jenis. Mendakilah untuk belajar, belajar sabar, belajar tidak sombong, belajar
qonaah, belajar prihatin dan masih banyak pembelajaran lainnya.
Puncak gunung
bukan untuk ditaklukkan, tapi ego manusialah yang perlu ditaklukkan. Menantang
diri untuk mengalahkan rasa letih demi menjejakkan kaki di puncak. Gunung yang
sebegitu menjulang tinggi tidak pernah sombong, bahkan di ayat Alquran
dijelaskan bahwa gunung tunduk bertasbih kepada Allah. Sedangkan kita? Sebagian
manusia malah khilaf, merasa berkuasa dan lalai beribadah. Dan yang lebih miris
lagi, manusia malah ada yang menyembah gunung. Astaghfirullah.
Pendaki yang
baik tidak pernah merasa dirinya lebih hebat dari orang lain. Walaupun dia
sudah pernah menjejakkan kaki di berbagai tanah tertinggi, dia tidak akan
merasa lebih baik dari mereka yang belum. Pendakian justru menyadarkan bahwa di
tengah ganasnya alam, manusia itu tidak ada apa-apanya. Dari setiap pendakian yang telah dilewati akan menumbuhkan
kebijaksanaan bagi seorang pendaki sejati.
Jalanan berliku
dan berbatu, becek, licin, ranting pohon silang sana sini, ah terlalu rumit
dijabarkan. Seorang pendaki tidak mau dikalahkan oleh rasa capek, malas, lapar
ataupun dingin. Dia berusaha untuk terus berjuang mengalahkan semua keengganan
yang muncul dari beratnya proses pendakian. Bukankah kehidupan nyata pun
seperti itu? Setiap perjalanan manusia menempuh liku nya masing-masing. Sanggup
untuk melewatinya atau menyerah pada keadaan?
Tertatih,
terjatuh, tersungkur, tetap harus kembali bangun. Saling menguatkan, menularkan
keyakinan untuk mencapai satu tujuan pasti. Bukan bersaing saling menjatuhkan
untuk menginjak puncak, namun saling menggenggam bersama menggapai puncak.
Sambil menahan lelah dan teriknya sengatan matahari, kita akan paham bahwa hidup harus benar-benar diperjuangkan sesuai
impian. Gak ada hidup yang pantas dijalani dengan kepuasan setengah hati. Ada
puncak-puncak kehidupan yang harus kita gapai.
Perjalanan
menuju puncak Ciremai harus melewati beberapa pos, setidaknya ada 6 pos. Dan
setiap pos memiliki rintangan masing-masing. Makin ke atas, jalanan makin
terjal dan perlu usaha ekstra untuk menjangkaunya. Susah payah untuk melangkah,
terasa berat untuk menopang. Bahkan ada yang sampai jatuh dan tersungkur. Tapi
karena tekad untuk menggapai tujuan terpancang kuat, maka hasil indahlah yang
didapat.
Setelah
berlelah-lelah menuju puncak, tengoklah pemandangan sekeliling. Dan ketakjubanpun
dimulai. Melihat awan bergumul serasa ingin lompat dan tidur di lapisan awan
itu. Perpaduan awan biru dan hijaunya pepohonan membuat lukisan pesona alam
yang syahdu, apalagi kalau ditambah sang fajar terbit ataupun sang mentari
tenggelam. Ah, terlalu indah. Maka nikmat Tuhan mu yang manakah yang kau
dustakan? Tak henti berseru memanggil Asma Nya, sisi lain keindahan yang Allah
ciptakan. Hati pun berdecak kagum, hingga air mata tak terasa menetes. Nyatakah
ini?
Jangan lupa pula
ketika mendaki haruslah menjaga kebersihan. Jangan membuang sampah sembarangan.
Alam yang begitu indah jangan dikotori. Sampah selama perjalanan dibawa
lagi turun. Saat ini banyak kegiatan
pencinta alam untuk membersihkan gunung dengan cara pendakian gunung sambil
memungut sampah yang berserakan. Seorang pendaki sejati tak kan rela gunung
yang mereka pijak dikotori.
Seorang pendaki
tetap akan rindu pulang ke rumahnya. Sejauh apapun kaki melangkah, rasa rindu
untuk pulang akan tetap ada. Dia akan menghargai makna “pulang”, “rumah” dan
orang-orang yang berada di dalamnya. Beruntunglah kamu jika pada pelukmu lah
dia selalu menemukan hangatnya rumah yang jadi sumber semangatnya untuk menuntaskan
pendakian. Pada pendakian-pendakian panjangnya dia sering duduk, memandang
bintang dan langit dari dataran setinggi 3000 meter diatas permukaan laut,
membayangkan hangatnya rumah yang ditinggalkan. Tidak jarang rasa rindu ingin
pulang jadi kekuatan saat langkahnya sudah sempoyongan melewati turunan yang
curam.
Memiliki
pasangan seorang pendaki akan memberikanmu hidup yang sederhana, tapi penuh
arti. Percaya deh, sudah saya buktikan.hehe
Sekali mendaki,
semakin tertarik untuk pendakian selanjutnya. Mengeja hikmah dari sebuah
pendakian. Belajar bersama alam, bersahabat dengan ego diri. Gunung mana lagi
yang akan kita daki? Semoga masih ada kesempatan selanjutnya untuk mendaki bersama sang
pendamping hidup.