Minggu, 11 September 2016

Enam Candu Kerinduan Ala Pedesaan


Setelah jenuh dengan segala hiruk-pikuk kota, kembali ke alam pedesaan bisa jadi salah satu alternatif refreshing bagi kita dan keluarga. Walau dalam segala kesederhanaan dan keterbatasan, suasana pedesaan penuh makna selalu membuat rindu untuk kembali. Momen lebaran dan libur panjang biasanya dijadikan ajang mudik ke kampung halaman. Pas nih, kalian pada mudik kemana Lebaran Idul Adha? 
Berikut ini hal yang menjadi candu kerinduan pulang ke pedesaan:
1. Bangun di pagi hari menghirup udara segar. 
Aroma pagi hari pedesaan itu memabukkan. Buka jendela ataupun keluar rumah, kita akan langsung disapa sejuknya hawa alam. Bau pepohonan yang kaya oksigen bisa kita hirup bebas secara alami tanpa ada campuran polusi. Helaan napas bertasbih memuji rahmat-Nya yang tak terkira. 
2. Tak perlu khawatir bahan pengawet, bahan makanan tersaji alami. 
Kita pasti berhati-hati dalam memilih makanan, apalagi banyak pemberitaan tentang bahan pengawet yang mengancam kesehatan. Bahan makanan bebas pengawet susah didapat di perkotaan. Kalau kita di desa, alam sudah menyediakan secara berlimpah bahan pangan. Padi tinggal menunggu panen, sayuran tinggal petik, ayam tinggal potong. Prosesnya pun kita saksikan langsung, jadi benar-benar aman dikonsumsi.
3. Lekat rasa persaudaraannya.
Di pedesaan rasa persaudaraannya sungguh erat. " Sadudulur" itu istilah yang dijunjung oleh orang desa. Tetangga yang berdekatan sudah dianggap keluarga sendiri. Saling membantu, gotong royong, dan saling berbagi sudah menjadi rutinitas bagi warga di desa. Di kota, orang  sibuk dengan urusannya masing-masing tanpa tahu kondisi tetangga. 
4. Pendidikan moral dan akhlak lebih diutamakan. 
Anak-anak di perkotaan setelah beres jam sekolah biasanya disibukkan dengan berbagai les. Sedangkan di desa, saat subuh tiba anak-anak kecil sudah bangun kemudian membantu orangtua melakukan pekerjaan rumah. Siang hari pulang sekolah, mereka juga kembali membantu di rumah atau ikut ke ladang. Dan sore hari mereka mengaji di surau. Kegiatan di pedesaan lebih banyak mengasah segi kepribadian.
5. Tak banyak kontaminasi pergaulan.
Zaman sekarang yang semakin kekinian dan arus informasi berseliweran tanpa batas berdampak pada pergaulan remaja. Anak-anak ABG tanggung di daerah perkotaan terbiasa dengan hingar bingar dunia malam. Nongkrong di kafe, nonton bioskop, shopping ke mall dll. Sedangkan di pedesaan, para remaja lebih banyak melakukan kegiatan kemasyarakatan seperti panitia acara Agustusan, acara malam takbiran, gotong royong, kerja bakti dan lain-lainnya. Bahkan anak pedesaan terkadang dianggap polos, jauh dari peradaban. Padahal mereka justru punya banyak potensi.
6. Penuh kesederhanaan yang mengajarkan arti bersyukur.
Tak banyak fasilitas modern yang ditawarkan di pedesaan, namun sisi kepuasan batinnya lebih terasa. Hiruk pikuk di kota terkadang penuh intrik terutama dalam hal kerjaan. Materi terus dikejar, gengsi makin diagungkan. Hidup di desa apa adanya, lebih akrab dengan alam, lebih memaknai kehidupan. Oksigen melimpah belum banyak tercemar polusi, alam masih memberikan kedamaian, rasa persaudaraan antar warga masih erat terjaga. Saling bahu membahu memajukan desa, bukan saling menjatuhkan demi kepuasan tahta pribadi. Suara jangkrik, kodok bahkan kambing pun ikut menyemarakkan suasana pedesaan. Embun pagi hari berkolaborasi dengan turunnya kabut ikut menyambut sang mentari muncul. Maka nikmat Tuhan-Mu yang manakah yang kau dustakan?
Bagi kalian yang sedang merantau di kota, yuk pulang kampung sejenak!


Minggu, 28 Agustus 2016

Shafeea Series Hijab Instan, Tetep Modis Tanpa Ribet


Mode fashion untuk para muslimah semakin hari semakin update. Berbagai gaya hijab bermunculan, ini itu pake pentul peniti di setiap sudut kerudungnya. Aaiihh sakit tuh kalau ketusuk.heu
Tentunya saya selaku wanita muslimah pasti ingin terlihat oke, apalagi di depan suami.hehe Sang suami pasti udah hapal betul kebiasaan saya berdandan pake kerudung menghabiskan beberapa menit ke depan. Alhasil kalau mau berangkat bepergian udah dari berapa jam sebelumnya harus sudah rapi.
Ingin modis tapi ga mau ribet? Gaya hijab kebanyakan pentul? Alhamdulillah sekarang ada solusinya. Setelah berkenalan dengan Teh Aldika, sekarang ga usah repot-repot lagi pake kerudung ala ala banyak jarum di sana sini, sekarang ada Shafeea Hijab.
Shafeea Hijab merupakan hijab instan tanpa perlu pentul dan peniti yang tetep keliatan kece saat dipake. Ga sembarangan instan, tapi dirancang mengikuti arus kekinian. Walaupun instan tapi bisa dipadupadankan dengan tiga pilihan style dalam pemakaiannya. Simple kan? Hijab ini dibuat dari bahan diamond yang sedang digemari di kalangan hijaber. Bahannya mudah diatur, jatuh mengesankan, tebal, tidak menerawang dan serta tampak mewah.
Warna yang tersedia banyak pilihan warna menarik yang lagi ngetrend, yaitu berry, matcha, emerald, diamond, starnight, red velvet, taro, macaroon, candy, cuddle, squash, hazelnut. Pasti bikin pengen pesen semua warna. Warna-warnanya nya bikin love love deh pokoknya.

Masalah harga ga usah khawatir, ga bikin kantong dicibir kok.hehe Dijamin kualitasnya ga kalah banding dengan yang branded. Harga promo 58.500, untuk bulan depan harga naik.
Produk kece ini bisa dipesan dari @mataharijinggalabels.
Untuk pemesanan bisa langsung hubungi kontak
BBM 5CFB398C
LINE @VMB5192T
WA 081218963181. Menerima untuk reseller juga, ayo buruan cek ig nya @mataharijinggalabels.
Sekarang lagi ada promo Tunik yang lagi nge-hits juga neh, ada diskon 10% sampai 30 Agustus. Ayo sebelum kehabisan!!!


@mataharijinggalabels produk-produk hijab nya selalu update menjawab kepuasan konsumen.

Sabtu, 27 Agustus 2016

Sekali Mendaki, Bikin Baper Berkelanjutan. Berani Coba?


Apa enaknya mendaki? Untuk apa mendaki? Jalan kaki lewati jalan terjal, ah cape ujung-ujungnya turun lagi. Ah takut hitam kena terik matahari, susah makan, susah tidur, ga mandi berhari-hari. Pikiran seperti itu merupakan hal yang wajar bagi seorang pemula untuk memutuskan mendaki. Apalagi bagi seorang perempuan. Terlalu beresiko.
Ada pendapat yang mengatakan bahwa pendaki gunung itu adalah orang-orang yang kurang kerjaan dan tidak punya tujuan. Bagi saya mereka itu justru orang yang sudah memantapkan tujuan dengan jelas, yakni puncak gunung.
Siapa bilang naik gunung itu enaknya pas ga musim hujan, jalurnya nyaman, dan cuaca ga panas? Itu artinya dia ga naik gunung. Begitu kiranya komentar salah satu dari sahabat yang menunjukkan pendakian sesungguhnya pada saya. Coba deh sensasinya mendaki gunung ditengah hujan badai. Saya sudah mencobanya, mendaki gunung pertama kali sudah disambut dengan hujan badai. Dingin? Beku? Susah bernafas? Kena hipotermia, hampir mau mati rasanya. Berhari-hari jalan kaki melewati beberapa pos. Panas terik, hujan pun ikut menyemarakkan. Hendak hati ingin melihat awan diatas langit, apa daya hujan badai yang didapat.
Pertama kali mendaki sudah langsung diajak ke gunung tertinggi di Jawa Barat, 3078 mdpl. Nah lho, kebayang ga pemula yang belum pernah melakukan pendakian, seorang perempuan yang biasanya anak rumahan (kalau di rumah), diajak camping ke gunung. Dan lebih seru nya lagi pendakian di saat hujan, jalur pendakian semakin ke atas semakin menantang, wah udah ga karuan rasanya.
Pengalaman pertama mendaki telah banyak mengajarkan arti kehidupan. Banyak filosofisnya kata sang Abah yang mendampingi pendakian pertama saya yang penuh kontroversi. Dan terbukti, pendakian kami berhasil mengantarkan kami ke pelaminan. Lho kok bisa? Pendakian mengajarkan kami bahwa pelajaran selalu didapat justru dari usaha mengalahkan kesulitan. Alam telah menempa kami dengan keras sehingga saya belajar banyak tentang kedisiplinan, kemandirian, penguasaan diri, kesabaran, kerja sama, kepedulian dan masih banyak lagi.
Terinspirasi dari cuplikan lirik lagu Doel Sumbang "Ceuk kolot baheula mah, hirup pinuh dodoja teh lir ibarat leumpang nanjak, engke mun geus nepi ka puncak sok manggih pamandangan endah”. Liku perjalanan saya dan suami hingga meniti ke jenjang pernikahan cukup bisa dianalogikan dengan masa pendakian yang kami lewati. Alhamdulillah keindahan bersama dalam meniti Sakinah sedang kami tapaki.
Pendaki itu romantis. Walau tampangnya gahar, kulitnya hitam karena keseringan terpapar sinar matahari, tapi hati anak gunung itu lembut dan hangat. Kalau orang lain menghadiahimu dengan cokelat dan bunga atau boneka lucu, dia akan menghadiahimu foto matahari terbit di Ranu Kumbolo atau malah menyebut namamu dalam doanya di puncak-puncak tertinggi gunung yang dia daki. Romantis kan? Penuh perjuangan dan pengorbanan untuk bisa mendapatkan momen seperti itu.
Mendaki bukan sekedar gaya-gayaan, bukan pula untuk cari perhatian ataupun memikat lawan jenis. Mendakilah untuk belajar, belajar sabar, belajar tidak sombong, belajar qonaah, belajar prihatin dan masih banyak pembelajaran lainnya.
Puncak gunung bukan untuk ditaklukkan, tapi ego manusialah yang perlu ditaklukkan. Menantang diri untuk mengalahkan rasa letih demi menjejakkan kaki di puncak. Gunung yang sebegitu menjulang tinggi tidak pernah sombong, bahkan di ayat Alquran dijelaskan bahwa gunung tunduk bertasbih kepada Allah. Sedangkan kita? Sebagian manusia malah khilaf, merasa berkuasa dan lalai beribadah. Dan yang lebih miris lagi, manusia malah ada yang menyembah gunung. Astaghfirullah.
Pendaki yang baik tidak pernah merasa dirinya lebih hebat dari orang lain. Walaupun dia sudah pernah menjejakkan kaki di berbagai tanah tertinggi, dia tidak akan merasa lebih baik dari mereka yang belum. Pendakian justru menyadarkan bahwa di tengah ganasnya alam, manusia itu tidak ada apa-apanya. Dari setiap  pendakian yang telah dilewati akan menumbuhkan kebijaksanaan bagi seorang pendaki sejati.
Jalanan berliku dan berbatu, becek, licin, ranting pohon silang sana sini, ah terlalu rumit dijabarkan. Seorang pendaki tidak mau dikalahkan oleh rasa capek, malas, lapar ataupun dingin. Dia berusaha untuk terus berjuang mengalahkan semua keengganan yang muncul dari beratnya proses pendakian. Bukankah kehidupan nyata pun seperti itu? Setiap perjalanan manusia menempuh liku nya masing-masing. Sanggup untuk melewatinya atau menyerah pada keadaan?
Tertatih, terjatuh, tersungkur, tetap harus kembali bangun. Saling menguatkan, menularkan keyakinan untuk mencapai satu tujuan pasti. Bukan bersaing saling menjatuhkan untuk menginjak puncak, namun saling menggenggam bersama menggapai puncak. Sambil menahan lelah dan teriknya sengatan matahari, kita akan paham bahwa  hidup harus benar-benar diperjuangkan sesuai impian. Gak ada hidup yang pantas dijalani dengan kepuasan setengah hati. Ada puncak-puncak kehidupan yang harus kita gapai.
Perjalanan menuju puncak Ciremai harus melewati beberapa pos, setidaknya ada 6 pos. Dan setiap pos memiliki rintangan masing-masing. Makin ke atas, jalanan makin terjal dan perlu usaha ekstra untuk menjangkaunya. Susah payah untuk melangkah, terasa berat untuk menopang. Bahkan ada yang sampai jatuh dan tersungkur. Tapi karena tekad untuk menggapai tujuan terpancang kuat, maka hasil indahlah yang didapat.
Setelah berlelah-lelah menuju puncak, tengoklah pemandangan sekeliling. Dan ketakjubanpun dimulai. Melihat awan bergumul serasa ingin lompat dan tidur di lapisan awan itu. Perpaduan awan biru dan hijaunya pepohonan membuat lukisan pesona alam yang syahdu, apalagi kalau ditambah sang fajar terbit ataupun sang mentari tenggelam. Ah, terlalu indah. Maka nikmat Tuhan mu yang manakah yang kau dustakan? Tak henti berseru memanggil Asma Nya, sisi lain keindahan yang Allah ciptakan. Hati pun berdecak kagum, hingga air mata tak terasa menetes. Nyatakah ini?
Jangan lupa pula ketika mendaki haruslah menjaga kebersihan. Jangan membuang sampah sembarangan. Alam yang begitu indah jangan dikotori. Sampah selama perjalanan dibawa lagi  turun. Saat ini banyak kegiatan pencinta alam untuk membersihkan gunung dengan cara pendakian gunung sambil memungut sampah yang berserakan. Seorang pendaki sejati tak kan rela gunung yang mereka pijak dikotori.
Seorang pendaki tetap akan rindu pulang ke rumahnya. Sejauh apapun kaki melangkah, rasa rindu untuk pulang akan tetap ada. Dia akan menghargai makna “pulang”, “rumah” dan orang-orang yang berada di dalamnya. Beruntunglah kamu jika pada pelukmu lah dia selalu menemukan hangatnya rumah yang jadi sumber semangatnya untuk menuntaskan pendakian. Pada pendakian-pendakian panjangnya dia sering duduk, memandang bintang dan langit dari dataran setinggi 3000 meter diatas permukaan laut, membayangkan hangatnya rumah yang ditinggalkan. Tidak jarang rasa rindu ingin pulang jadi kekuatan saat langkahnya sudah sempoyongan melewati turunan yang curam.
Memiliki pasangan seorang pendaki akan memberikanmu hidup yang sederhana, tapi penuh arti. Percaya deh, sudah saya buktikan.hehe 
Sekali mendaki, semakin tertarik untuk pendakian selanjutnya. Mengeja hikmah dari sebuah pendakian. Belajar bersama alam, bersahabat dengan ego diri. Gunung mana lagi yang akan kita daki? Semoga masih ada kesempatan selanjutnya untuk mendaki bersama sang pendamping hidup.




SUDAH SAATNYA MOVE ON, LEJITKAN POTENSI MENULISMU!


Suka luapin unek-unek lewat tulisan? Menulis mempunyai makna tersendiri, dan bagi saya menulis adalah kebebasan dalam menyampaikan ide, perasaan, kecamuk hati, galau jiwa, dan semua yang ada di hati dikemas dalam alur pemikiran. Dengan menulis saya lebih leluasa dan lebih nyaman berekspresi.
Disaat orang disekitar banyak yang sudah memantapkan langkahnya berkarya.Lihat teman yang ini, dia sukses bisnis. Lihat teman itu, keren produktif bikin artikel. Ah bikin ngiler.Semangat untuk menulis ingin sekali saya geluti dengan serius.
Alhamdulillah dapat ajakan training menulis artikel@JoeraganArtikel. Trainingnya ONLINE!Training ini bisa diikuti oleh siapa saja, kapan saja dan dimana saja. Gampang kan? Cuma bermodalkan kuota internet, bisa online lewat gadget, dapet ilmu, sharing pengalaman, menambah silaturahmi dengan teman-teman yang super kece, potensi menulis pun semakin terasah, pundi-pundi keuangan pun Insya Allah terisi.
Sidik punya selidik, ternyata training menulis artikel yang dipunggawai oleh Ummi Aleeya ini bekerja sama dengan Indscript Training Centre (ITC) yang CEOnya itu adalah Teh Indari Mastuti. Teh Indari sangat peduli terhadap pemberdayaan perempuan di bidang bisnis dan kepenulisan. Banyak bergaul dengan ibu-ibu keren masa kini, aura positif untuk produktif akan semakin terarah dan yang paling utama tetap bisa sambil mengurus keluarga.
Tugas yang selalu diberikan pada saat training adalah hal wajib untuk melatih keterampilan menulis kita. Alhamdulillah sang coaching Ummi Aleeya selalu sabar menanti tugas yang harus kami kirimkan. Beliau pun telaten memberikan respon kepada anggota trainingnya.

Ikut training menulis artikel@JoeraganArtikel banyak plus plusnya. Selain ada tugas, kita juga diberi kesempatan mengerjakan job magang. Sambil belajar, sambil dipraktekan, sambil dapat penghasilan. Enak kan? Bukan hanya itu, training memberikan kesempatan untuk para lulusan yang terpilih menjadi penulis inti di emakpintar.asia. Ayo segera merapat yang ingin move on. Menjadi penulis produktif, bukan sekedar cuap-cuap belaka. Kenali potensi diri, hargai keahlian kamu.

Senin, 15 Agustus 2016

Masih LDR Setelah Menikah? Istri Ikut Suami Atau Suami Ikut Istri?



Mulai dari masa penjajakan (bukan penjajahan ya...hehe) saya dan mantan pemuja rahasia (alias sang suami) sudah dipisahkan oleh jarak, padahal kenal dari semenjak zaman putih abu-abu. Kuliah S1 pun di universitas yang sama tapi beda Fakultas. Namun ternyata baru klik disaat kita berdua sudah lulus dan mencari rezeki di tempatnya masing-masing. (Kamana wae atuh?) Untuk masalah kerjaan, walaupun sama-sama lulusan pendidikan, tapi ternyata saya berpindah haluan ke dunia perbankan yang tak terbersit sedikitpun untuk berkutat di bidang itu. Sedangkan sang konsultan (suami) masih istiqomah menjadi sang pendidik.
Jarak tempuh tempat kita berdua mengais rezeki lumayan agak jauh, dipisahkan oleh beberapa kota (Untungnya masih satu Provinsi, ga harus nyebrang Pulau). Namun masih ada titik temu untuk sekedar bersua. Alhamdulillah setelah melewati berbagai haru biru, sedu sedan, segala drama kehidupan, kegalauan pun pernah menghampiri, sempat pesimis untuk merengkuh tujuan bersama. Tapi Allah punya rencana indah, akhirnya 23 Juli 2016 kami sah sebagai suami istri. Pendakian pelajaran hidup selanjutnya akan dimulai. Are you ready? Ya, harus siap pastinya. Sudah menikah masih LDR juga? Setiap pasangan, idealnya pasti ingin berada dalam naungan yang sama. Setiap hari ingin ada yang mendampingi. Ya salah satu tujuan menikah adalah untuk bersama dalam segala hal. Asalkan saling menjaga dan teguh pada komitmen bersama, jarak pun bukan rintangan yang begitu berarti. Saat ini mungkin belum, tapi pada waktunya nanti, yakinlah akan ada jalannya untuk bersatu. Beberapa teman pun yang sudah lebih dulu mengecap pernikahan dan lebih senior menjalani LDR pasca menikah, Alhamdulillah sejauh ini mereka sukses dalam keutuhan. Setiap pilihan hidup pasti memiliki resiko masing-masing. Tinggal kita yakin mampu dan mau menerima konsekuensi atau tidak.
Kenapa tidak ikut suami saja? Bisa saja. Kok malah suami yang ikut istri? Memang kenapa? Tak ada batasan, karena kami saling berikhtiar untuk berada dalam satu atap. Pada hakikatnya saya akan mengikuti arahan suami. Jika memang harus ikut suami, maka saya akan pindah tapi bukan semata-mata sekedar ingin dekat bersama suami tanpa ada landasan perencanaan. Toh pada dasarnya saya juga ingin berhijrah ke daerah tempat suami bekerja. Tapi saya ingin menyiapkan bekal untuk kepindahan itu. Pindah kerja itu bukan sekedar masalah pindah tempat saja, ada segudang seluk beluk,printil ini itu dan lain sebagainya yang perlu dipertimbangkan masak-masak. Terkesan terlalu pemikir? Ya sudah sewajarnya kita berpikir sebelum bertindak.
Tinggal memutuskan jadi ibu rumah tangga saja, kenapa ribet mikir? Mungkin ada celotehan seperti itu. Walaupun tetap bekerja, bukankah ketika berada di rumah, seorang istri tetaplah sebagai ibu rumah tangga? Orang tua dan keluarga adalah contoh panutan terdekat, mungkin itu yang membuat pola pikir saya menyikapi setiap persoalan dengan pandangan luas ditambah memperhatikan pengalaman orang sekitar.
Kudu yakin Allah pasti "ngarizkian". Itulah yang biasa suami utarakan dari sebelum menikah sampai sekarang ketika saya mulai gundah gulana memikirkan baiknya harus bagaimana.
Setelah menikah, alhamdulillah suami mendapat tawaran mengajar di daerah yang lebih memungkinkan untuk kami tinggal satu atap, tapi terlalu mendadak dan penuh konflik batin dengan segala resiko. Alhasil, suami dan saya pun ikut galau. Keberuntungan setelah menikah? Inikah jawabannya? Atau kah ujian?Manakah yang akan dipilih? Allah sedang merencanakan skenario yang indah untuk kita, insyaallah, Aamiin.
Pada akhirnya, Insyaallah kita akan berkumpul bersama. Dan semoga berkumpul juga kelak di JannahNya.