Sabtu, 27 Agustus 2016

Sekali Mendaki, Bikin Baper Berkelanjutan. Berani Coba?


Apa enaknya mendaki? Untuk apa mendaki? Jalan kaki lewati jalan terjal, ah cape ujung-ujungnya turun lagi. Ah takut hitam kena terik matahari, susah makan, susah tidur, ga mandi berhari-hari. Pikiran seperti itu merupakan hal yang wajar bagi seorang pemula untuk memutuskan mendaki. Apalagi bagi seorang perempuan. Terlalu beresiko.
Ada pendapat yang mengatakan bahwa pendaki gunung itu adalah orang-orang yang kurang kerjaan dan tidak punya tujuan. Bagi saya mereka itu justru orang yang sudah memantapkan tujuan dengan jelas, yakni puncak gunung.
Siapa bilang naik gunung itu enaknya pas ga musim hujan, jalurnya nyaman, dan cuaca ga panas? Itu artinya dia ga naik gunung. Begitu kiranya komentar salah satu dari sahabat yang menunjukkan pendakian sesungguhnya pada saya. Coba deh sensasinya mendaki gunung ditengah hujan badai. Saya sudah mencobanya, mendaki gunung pertama kali sudah disambut dengan hujan badai. Dingin? Beku? Susah bernafas? Kena hipotermia, hampir mau mati rasanya. Berhari-hari jalan kaki melewati beberapa pos. Panas terik, hujan pun ikut menyemarakkan. Hendak hati ingin melihat awan diatas langit, apa daya hujan badai yang didapat.
Pertama kali mendaki sudah langsung diajak ke gunung tertinggi di Jawa Barat, 3078 mdpl. Nah lho, kebayang ga pemula yang belum pernah melakukan pendakian, seorang perempuan yang biasanya anak rumahan (kalau di rumah), diajak camping ke gunung. Dan lebih seru nya lagi pendakian di saat hujan, jalur pendakian semakin ke atas semakin menantang, wah udah ga karuan rasanya.
Pengalaman pertama mendaki telah banyak mengajarkan arti kehidupan. Banyak filosofisnya kata sang Abah yang mendampingi pendakian pertama saya yang penuh kontroversi. Dan terbukti, pendakian kami berhasil mengantarkan kami ke pelaminan. Lho kok bisa? Pendakian mengajarkan kami bahwa pelajaran selalu didapat justru dari usaha mengalahkan kesulitan. Alam telah menempa kami dengan keras sehingga saya belajar banyak tentang kedisiplinan, kemandirian, penguasaan diri, kesabaran, kerja sama, kepedulian dan masih banyak lagi.
Terinspirasi dari cuplikan lirik lagu Doel Sumbang "Ceuk kolot baheula mah, hirup pinuh dodoja teh lir ibarat leumpang nanjak, engke mun geus nepi ka puncak sok manggih pamandangan endah”. Liku perjalanan saya dan suami hingga meniti ke jenjang pernikahan cukup bisa dianalogikan dengan masa pendakian yang kami lewati. Alhamdulillah keindahan bersama dalam meniti Sakinah sedang kami tapaki.
Pendaki itu romantis. Walau tampangnya gahar, kulitnya hitam karena keseringan terpapar sinar matahari, tapi hati anak gunung itu lembut dan hangat. Kalau orang lain menghadiahimu dengan cokelat dan bunga atau boneka lucu, dia akan menghadiahimu foto matahari terbit di Ranu Kumbolo atau malah menyebut namamu dalam doanya di puncak-puncak tertinggi gunung yang dia daki. Romantis kan? Penuh perjuangan dan pengorbanan untuk bisa mendapatkan momen seperti itu.
Mendaki bukan sekedar gaya-gayaan, bukan pula untuk cari perhatian ataupun memikat lawan jenis. Mendakilah untuk belajar, belajar sabar, belajar tidak sombong, belajar qonaah, belajar prihatin dan masih banyak pembelajaran lainnya.
Puncak gunung bukan untuk ditaklukkan, tapi ego manusialah yang perlu ditaklukkan. Menantang diri untuk mengalahkan rasa letih demi menjejakkan kaki di puncak. Gunung yang sebegitu menjulang tinggi tidak pernah sombong, bahkan di ayat Alquran dijelaskan bahwa gunung tunduk bertasbih kepada Allah. Sedangkan kita? Sebagian manusia malah khilaf, merasa berkuasa dan lalai beribadah. Dan yang lebih miris lagi, manusia malah ada yang menyembah gunung. Astaghfirullah.
Pendaki yang baik tidak pernah merasa dirinya lebih hebat dari orang lain. Walaupun dia sudah pernah menjejakkan kaki di berbagai tanah tertinggi, dia tidak akan merasa lebih baik dari mereka yang belum. Pendakian justru menyadarkan bahwa di tengah ganasnya alam, manusia itu tidak ada apa-apanya. Dari setiap  pendakian yang telah dilewati akan menumbuhkan kebijaksanaan bagi seorang pendaki sejati.
Jalanan berliku dan berbatu, becek, licin, ranting pohon silang sana sini, ah terlalu rumit dijabarkan. Seorang pendaki tidak mau dikalahkan oleh rasa capek, malas, lapar ataupun dingin. Dia berusaha untuk terus berjuang mengalahkan semua keengganan yang muncul dari beratnya proses pendakian. Bukankah kehidupan nyata pun seperti itu? Setiap perjalanan manusia menempuh liku nya masing-masing. Sanggup untuk melewatinya atau menyerah pada keadaan?
Tertatih, terjatuh, tersungkur, tetap harus kembali bangun. Saling menguatkan, menularkan keyakinan untuk mencapai satu tujuan pasti. Bukan bersaing saling menjatuhkan untuk menginjak puncak, namun saling menggenggam bersama menggapai puncak. Sambil menahan lelah dan teriknya sengatan matahari, kita akan paham bahwa  hidup harus benar-benar diperjuangkan sesuai impian. Gak ada hidup yang pantas dijalani dengan kepuasan setengah hati. Ada puncak-puncak kehidupan yang harus kita gapai.
Perjalanan menuju puncak Ciremai harus melewati beberapa pos, setidaknya ada 6 pos. Dan setiap pos memiliki rintangan masing-masing. Makin ke atas, jalanan makin terjal dan perlu usaha ekstra untuk menjangkaunya. Susah payah untuk melangkah, terasa berat untuk menopang. Bahkan ada yang sampai jatuh dan tersungkur. Tapi karena tekad untuk menggapai tujuan terpancang kuat, maka hasil indahlah yang didapat.
Setelah berlelah-lelah menuju puncak, tengoklah pemandangan sekeliling. Dan ketakjubanpun dimulai. Melihat awan bergumul serasa ingin lompat dan tidur di lapisan awan itu. Perpaduan awan biru dan hijaunya pepohonan membuat lukisan pesona alam yang syahdu, apalagi kalau ditambah sang fajar terbit ataupun sang mentari tenggelam. Ah, terlalu indah. Maka nikmat Tuhan mu yang manakah yang kau dustakan? Tak henti berseru memanggil Asma Nya, sisi lain keindahan yang Allah ciptakan. Hati pun berdecak kagum, hingga air mata tak terasa menetes. Nyatakah ini?
Jangan lupa pula ketika mendaki haruslah menjaga kebersihan. Jangan membuang sampah sembarangan. Alam yang begitu indah jangan dikotori. Sampah selama perjalanan dibawa lagi  turun. Saat ini banyak kegiatan pencinta alam untuk membersihkan gunung dengan cara pendakian gunung sambil memungut sampah yang berserakan. Seorang pendaki sejati tak kan rela gunung yang mereka pijak dikotori.
Seorang pendaki tetap akan rindu pulang ke rumahnya. Sejauh apapun kaki melangkah, rasa rindu untuk pulang akan tetap ada. Dia akan menghargai makna “pulang”, “rumah” dan orang-orang yang berada di dalamnya. Beruntunglah kamu jika pada pelukmu lah dia selalu menemukan hangatnya rumah yang jadi sumber semangatnya untuk menuntaskan pendakian. Pada pendakian-pendakian panjangnya dia sering duduk, memandang bintang dan langit dari dataran setinggi 3000 meter diatas permukaan laut, membayangkan hangatnya rumah yang ditinggalkan. Tidak jarang rasa rindu ingin pulang jadi kekuatan saat langkahnya sudah sempoyongan melewati turunan yang curam.
Memiliki pasangan seorang pendaki akan memberikanmu hidup yang sederhana, tapi penuh arti. Percaya deh, sudah saya buktikan.hehe 
Sekali mendaki, semakin tertarik untuk pendakian selanjutnya. Mengeja hikmah dari sebuah pendakian. Belajar bersama alam, bersahabat dengan ego diri. Gunung mana lagi yang akan kita daki? Semoga masih ada kesempatan selanjutnya untuk mendaki bersama sang pendamping hidup.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar