Mulai dari masa penjajakan (bukan penjajahan ya...hehe) saya dan mantan pemuja rahasia (alias sang suami) sudah dipisahkan oleh jarak, padahal kenal dari semenjak zaman putih abu-abu. Kuliah S1 pun di universitas yang sama tapi beda Fakultas. Namun ternyata baru klik disaat kita berdua sudah lulus dan mencari rezeki di tempatnya masing-masing. (Kamana wae atuh?) Untuk masalah kerjaan, walaupun sama-sama lulusan pendidikan, tapi ternyata saya berpindah haluan ke dunia perbankan yang tak terbersit sedikitpun untuk berkutat di bidang itu. Sedangkan sang konsultan (suami) masih istiqomah menjadi sang pendidik.
Jarak tempuh tempat kita berdua
mengais rezeki lumayan agak jauh, dipisahkan oleh beberapa kota (Untungnya masih
satu Provinsi, ga harus nyebrang Pulau). Namun masih ada titik
temu untuk sekedar bersua. Alhamdulillah setelah melewati berbagai haru biru, sedu
sedan, segala drama kehidupan, kegalauan pun pernah menghampiri, sempat pesimis
untuk merengkuh tujuan bersama. Tapi Allah punya rencana indah, akhirnya 23
Juli 2016 kami sah sebagai suami istri. Pendakian pelajaran hidup selanjutnya
akan dimulai. Are you ready? Ya,
harus siap pastinya. Sudah menikah masih LDR juga? Setiap pasangan, idealnya
pasti ingin berada dalam naungan yang sama. Setiap hari ingin ada yang
mendampingi. Ya salah satu tujuan menikah adalah untuk bersama dalam segala
hal. Asalkan saling menjaga dan teguh pada komitmen bersama, jarak pun bukan
rintangan yang begitu berarti. Saat ini mungkin belum, tapi pada waktunya
nanti, yakinlah akan ada jalannya untuk bersatu. Beberapa teman pun yang sudah
lebih dulu mengecap pernikahan dan lebih senior menjalani LDR pasca menikah,
Alhamdulillah sejauh ini mereka sukses dalam keutuhan. Setiap pilihan hidup
pasti memiliki resiko masing-masing. Tinggal kita yakin mampu dan mau menerima
konsekuensi atau tidak.
Kenapa tidak ikut suami saja? Bisa
saja. Kok malah suami yang ikut istri? Memang kenapa? Tak ada batasan, karena
kami saling berikhtiar untuk berada dalam satu atap. Pada hakikatnya saya akan
mengikuti arahan suami. Jika memang harus ikut suami, maka saya akan pindah
tapi bukan semata-mata sekedar ingin dekat bersama suami tanpa ada landasan
perencanaan. Toh pada dasarnya saya juga ingin berhijrah ke daerah tempat suami
bekerja. Tapi saya ingin menyiapkan bekal untuk kepindahan itu. Pindah kerja
itu bukan sekedar masalah pindah tempat saja, ada segudang seluk beluk,printil
ini itu dan lain sebagainya yang perlu dipertimbangkan masak-masak. Terkesan
terlalu pemikir? Ya sudah sewajarnya kita berpikir sebelum bertindak.
Tinggal memutuskan jadi ibu rumah
tangga saja, kenapa ribet mikir? Mungkin ada celotehan seperti itu. Walaupun
tetap bekerja, bukankah ketika berada di rumah, seorang istri tetaplah sebagai
ibu rumah tangga? Orang tua dan keluarga adalah contoh panutan terdekat,
mungkin itu yang membuat pola pikir saya menyikapi setiap persoalan dengan
pandangan luas ditambah memperhatikan pengalaman orang sekitar.
Kudu yakin Allah pasti "ngarizkian".
Itulah yang biasa suami utarakan dari sebelum menikah sampai sekarang ketika
saya mulai gundah gulana memikirkan baiknya harus bagaimana.
Setelah menikah, alhamdulillah
suami mendapat tawaran mengajar di daerah yang lebih memungkinkan untuk kami
tinggal satu atap, tapi terlalu mendadak dan penuh konflik batin dengan segala
resiko. Alhasil, suami dan saya pun ikut galau. Keberuntungan setelah menikah?
Inikah jawabannya? Atau kah ujian?Manakah yang akan dipilih? Allah sedang
merencanakan skenario yang indah untuk kita, insyaallah, Aamiin.
Pada akhirnya, Insyaallah kita
akan berkumpul bersama. Dan semoga berkumpul juga kelak di JannahNya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar