Hasrat untuk
menulis tiba-tiba membuncah, bukan fiksi tapi nyata ingin berbagi. Pengalaman
sendiri, anggap sebagai muhasabah diri. Menjelang penghujung tahun, menyambut
awal tahun baru. Tak ada salahnya ku pikir tuk merefleksikan setiap hikmah
kehidupan. Dengan segala kerendahan hati, mohon maaf bila ada yang tidak
berkenan. Ini hanya sekedar menuangkan kata lewat tulisan, tak ada embel-embel
apapun, mohon disikapi dengan bijak, bukan untuk dibajak apalagi dihujat. Terima kasih.
Kuawali dengan
bismillah, semoga kebaikan selalu tercurah untuk kita semua.
Cerita awal dari
bayi sampai dewasa simpan untuk garapan selanjutnya saja, syukur-syukur bisa
dijadikan biografi. Jadi kuputuskan mengawali rentetan cerita dari saat SMA
saja , maaf kalau tidak sesuai kaidah Bahasa Indonesia, ejaan acakadul, gaya
tidak formal, hanya sekedar celoteh
cuap-cuap, tapi semoga tak mengurangi isi hikmah.
Jarak dari rumah
agak lumayan jauh, perlu beberapa kali transportasi. Nampaknya perlu ngekost,
tapi karena kebetulan ada paman dan bibi yang tinggal lebih dekat jaraknya ke
sekolah. Jadilah anak rantau ceritanya, walau masih rantau abal-abal.
Mengawali
perjalanan SMA dengan acara kegiatan MOS (Masa Orientasi Sekolah). Kok pake
persyaratan aneh-aneh segala, ini itu apa namanya kaya teka-teki, bikin
aksesoris apalah-apalah. Paman dan bibi pun ikut terlibat, bantu menyiapkan
sesajen buat ritual tahunan yang mengatasnamakan masa pengenalan sekolah,
dengan iming-iming peralihan perlu adaptasi. Duh rempong bener,,,,
Anggap saja
kegiatan MOS berakhir, cerita lain
menunggu. Duh, dapet kelas dimana, tar temennya siapa, nanti belajarnya gimana.
Si aku yang minderan orangnya, pendiem,kikuk dengan lingkungan baru makin ga
karuan lihat orang lain yang kebanyakan orang “kota”, sedangkan saya hanyalah
anak bawang dari pedesaan.
Dengan meminta
doa dari kedua orang tua dan keluarga, bismillah saya ikut tes. Ada tes
tertulis, dan ada juga tes praktek. Tes prakteknya pasang komponen komputer
agar bisa nyala, untung ga konslet. Terombang-ambing antara pesimis dan dan ingin lolos, itu yang selalu
melanda diri.
Disaat merasa
pesimis, Allah memberikan amanah, Alhamdulillah lolos dan masuk kelas eksklusif
(ceritanya). Rentetan tuntutan ini itu pun bermunculan, pulang lebih sore
dibanding yang lain, tugas lebih dari yang lain,ya ditempatkan di ruangan yang
lebih dari yang lain di Laboratorium Bahasa. Saking eksklusifnya, justru malah
terasa terisolasi kurang bersosialisasi dengan kelas lain, itu yang saya rasa
ditambah karena kurang membuka diri dan berinteraksi dengan teman lainnya lewat
organisasi atau ekskul lainnya.
Wow, begini ya
rasanya belajar di kelas RSNBI. Lirik kanan kiri semuanya keliatan berbobot.
Mulai lah mencari teman yang sekiranya sehati untuk sama-sama berjuang dan
bertahan.Dan ya Alhamdulillah memiliki genggong sepermainan yang menghiasi
warna kehidupan. Awal-awal waktu sungguh membuat kepala pening. Pulang sore, PR
numpuk, ini itu kudu in English, ada English Day, bla bla bla dll. Mampukah aku
bertahan? Sanggupkah untuk berlanjut? Akankah terus berjuang? Ataukah terhenti?
Sisi rapuhku
kembali hadir, air mata pun mengiringi. Hendak bagaimana ini??? Perlu rasanya
untuk mendapat pencerahan, ku beranikan bicara pada orang tua. Mengadu pada
Ilahi, hanya itu jalan keluarnya jawab mereka. Baiklah, akan ku temukan jalan
terbaiknya dengan bercumbu menengadah memohon padaNya. Semoga Allah segera
memberi jawaban.
Selang beberapa
waktu, sempat ku utarakan untuk pindah sekolah. Ya aku ingin pindah sekolah
saja. Entah apa yang membuatku begitu tertekan sehingga merasa pada titik bawah. Semoga keputusan ini bukan
sekedar emosi sesaat. Satu semester pun terlewati berada di kelas RSNBI. Kecamuk hati pun kembali mendera di saat
pembagian raport. Pesimis, takut,khawatir,sedih, campur aduk. Dan disebutkan
lah yang menempati rangking teratas. Ah, sudahlah aku tak mungkin berada di
deretan atas. Dan sungguh menghentakkan pikir, saat namaku disebut. Ya namaku disebut setelah yang pertama.
Allah kembali
menegur ku, disaat ku merasa terbawah, Allah memberikan jawaban terindah.
Hendak kemana kau berjalan sekarang? ?? Masih mengelak? Subhanallah
walhamdulillah… Allah memeluk ku dengan Kuasanya. Air mata penuh haru tak mampu
dibendung, tumpah ruah segala kecamuk
hati. Allah kembali memberikan amanahNya, mana mungkin aku ingkari.
Mempertahankan lebih sulit daripada meraih,tapi saya harus tetap berusaha jadi
yang terbaik.
Keinginan untuk
pindah sekolah pun akhirnya pudar, yang harus dibenahi justru agar bisa tetap
bertahan, bukan melarikan diri. Baiklah, babak baru pun dimulai. Mulai
dinikmati, walau lelah kadang menyapa. Beranikan diri mengexplore kemampuan,
suka pelajaran eksak, kecuali Fisika. Sepertinya senang dengan Biologi, maka
coba ikut segala tes berbau Biologi. Alhamdulillah, pernah menorehkan prestasi
menjadi kebanggaan penuh rasa syukur. Tapi ya saya masih tetap minder, mungkin
sudah karakternya.
Singkat
cerita,pengalaman di SMA akan berakhir harus berlanjut ke jenjang selanjutnya.
Kebingungan pun melanda kembali. Hendak kemana kau wahai diri? Sejak kecil,
cita-cita yang sering didengungkan adalah Dokter. Ya setiap anak pun mungkin
bercita-cita sama. Oke, mari gapai cita-cita. Kuliah kedokteran, bismillah.
Dimana? UGM? UI? Wah ketinggian ga ya? Pesimis duluan kumat. Ah ada kenalan di
UIN Jakarta katanya ada Kedokteran disana. Libur sekolah pun dipakai untuk
survey, sekalian silaturahmi sama keluarga di Jakarta dan bertemu teman di UIN
Jakarta. Orang tua pun mengizinkan aku untuk berangkat liburan tahun baru di
Jakarta. Diantar saudara ke kampus UIN, sampai disana masuk ke ruangan apa
namanya entah. Bertemu dengan salah satu staff, tak mau melewatkan kesempatan
beranikan bertanya info Jurusan Kedokteran, minta brosur. Sayangnya UIN Jakarta
tidak kerja sama dengan SMA saya waktu itu, jadi tidak ada seleksi intern.
Bismillah ambil
Kedokteran. Sambil menunggu kelulusan dan
seleksi SPMB, ada banyak penawaran tes dari berbagai universitas. Niat
awal saya, kalau tidak Kedokteran ya apapun yang masih lingkup dunia kesehatan.
Tiba-tiba ada pendaftaran PMDK dari UPI, ragu tapi ya sudahlah ikut saja, orang
lain sudah banyak daftar sana sini sedangkan saya belum. Pilihan pun jatuh pada
jurusan Pendidikan Biologi, ya ilmu dasar untuk dunia kesehatan gumamku. Toh
saya memang suka Biologi, makin termotivasi dengan salah satu guru Biologi yang
jadi inspirasi saya untuk menjadi guru, guru yang mengayomi disenangi para
murid. Daftar ke Poltekkes Bandung pun pernah diikuti, namun tidak dilanjut
tes.
Kelulusan sudah
diumumkan, semua disibukkan untuk mempersiapkan tes SPMB. Saya pun daftar
bimbel, rencananya mau ikut tes SPMB, siap-siap untuk UGM. Selang beberapa hari
kemudian, pengumuman PMDK UPI pun keluar. Dan nama saya tertulis lolos. Tahap
selanjutnya harus daftar ulang.
Lagi-lagi dihadapkan pada pilihan yang harus dipilih,
dilema, bingung, bimbang. Keyakinan pun diuji dengan munculnya pilihan baru.
Lanjut daftar ulang UPI, atau menunggu SPMB memilih Kedokteran??? UPI? Tanpa
tes sudah bisa langsung duduk manis, kurang bersyukur apalagi? Kedokteran?
Harus melewati serangkaian tes, entah keterima atau tidak, dan biaya nya
pun.... Wow,,, Heeuumm,,, mikir lagi... Dan pada akhirnya memilih Jurusan
Pendidikan Biologi UPI. Ya bismillah,,,
Daftar ulang sendirian, planga plongo kesana kesitu sendiri, bejubel padat
penuh merayap yang pada daftar ulang. Alhamdulillah, memilih UPI memberikan
energi positif. Berawal dari pertemuan dengan kakak kelas yang dikira kakak
kembar,yang katanya mirip sama beliau. Subhanallah,,, tersirat hasrat saya
ingin seperti beliau. Akhwat luar biasa, cerdas,aktif, inspiratif pokoknya bagi
saya. Alhamdulillah dipertemukan dengan beliau.
Salah satu perubahan yang saya lakukan adalah penampilan. Saya coba mengumpulkan
rok, ya saya akan menggunakan rok ke kampus, nampak terlihat lebih anggun. Dan
memang sudah diniatkan untuk belajar lebih baik lagi tentang Islam. Bismillah,
babak baru pun dimulai.... Inti cerita saja ya, tak perlu banyak diceritakan
karena terlalu panjang dan lama untuk mengulik kehidupan saat kuliah apalagi membeberkan semua kisah.
Kuliah di Biologi, syukur alhamdulillah. Banyak pembelajaran, mengetahui
seluk beluk sistem tubuh manusia,hewan, dan tumbuhan. Belajar anatomi,
fisiologi, botani, zoologi, dll banyak lah macamnya mata kuliah yang diambil.
Dan woooowwww,,, subhanallah walhamdulillah. Banyak kekuasaan Allah yang
membuat tercengang. Ada kata-kata menarik yang menggelitik, “Cintailah Biologi,
karena dengan mencintai Biologi maka kamu akan mencintai kehidupan”. Ya itu
benar, saya alami sendiri. Walau dengan segala macam rintangan di setiap
semesternya, namun akhirnya bisa telewati dengan baik. Pengalaman kuliah
lapangan, panas-panasan, nyemplung ke air, masuk ke hutan dsb. Itu pengalaman
sangat berkesan. Karena jurusan nya bertitle kan “Pendidikan”, maka belajar
pula lah tentang seluk beluk mendidik. Guru bukan sekedar mengajar menyampaikan
materi atau transfer ilmu semata, tapi ada ini itu dll. Bukan profesi yang
gampang namun pekerjaan yang mulia. Subhanallah....
Singkat cerita, ujian skripsi beres tinggal menunggu selebrasi wisuda. Wah,
melamar kerja dimana ya. Teman-teman yang lain sudah banyak yang duluan bekerja
paruh waktu di bimbel. Tapi entah kenapa saya kurang berminat.
Orang tua pernah berpesan, lebih baik cari tempat mengajar di kota saja,
jangan kembali ke tempat asal. Atau sekalian langsung melanjutkan ke jenjang
s2. Heeuumm,,, menarik. Baiklah akan saya coba. Ya saya berencana lanjut s2,
UPI atau ITB?? Coba dua2nya saja pikirku. Alhamdulillah ada sedikit celah
menuju realisasi s2 itu. Salah satu dosen pembimbing memberikan semacam proyek
penelitian beliau, saya dan teman saya diberikan tugas untuk membantu mengolah
data. Heuumm,,, lumayan bisa meminta rekomendasi beliau juga untuk persyaratan
daftar s2. Selain itu, beres revisi skripsi, tiba-tiba salah satu dosen penguji
memanggil dan meminta bantuan untuk
menjadi semacam asisten praktikum di kelas pasca sarjana. Alhamdulillah....
Menambah wawasan dan pengalaman. Sambil menunggu wisuda, sampingan ikut jadi
asisten praktikum di kelas pasca sarjana, dan mendapat info lowongan mengajar
di sebuah sekolah swasta di Cimahi. Alhamdulillah,,,satu per satu harapan
terjawab pikirku, soalnya pernah terujar ingin mengajar di Bandung atau sekitar
Cimahi.
Waktu itu jadwal ngajar di sekolah hanya hari Senin dan Rabu dan Selasa
jadi asisten praktikum, 3 hari stay di Bandung selebihnya aku pulang ke rumah
dan mengajar di SD tempat ayah dinas. Kebetulan kedua orang tua sedang
melaksanakan ibadah haji, jadi masih bolak-balik Bandung-Majalengka, ngurus
rumah dan adik. Pulang pergi Bandung-Majalengka setiap minggu tak dirasa cape
karena ada tanggung jawab yang diemban. Sekitar 2 bulan menjalani peran sebagai
guru mengajar di sekolah, ada yang memberi info lowongan kerja di Bank untuk
penempatan di Cirebon. Heuumm,, coba saja pikir ku. Iseng-iseng nambah
pengalaman merasakan menjadi pelamar kerja. Tak lupa titip doa kepada orang tua
yang sedang beribadah di Mekkah. Doa mereka pastilah yang terbaik untuk
anak-anaknya. Syukur alhamdulillah momennya terasa pas. Semoga segala doa yang
dipanjatkan diijabah Allah. Dan ternyata seleksi di Bank pun satu per satu
dilewati. Sempat terlupakan karena pengumuman lumayan cukup lama, dan saya pun
sudah mulai menikmati peran jadi guru. Wacana akan dijadikan guru tetap di
sekolah tersebut pun sudah didengungkan. Jadwal mengajar pun mulai padat,
karena mendapat lebih banyak kelas dan 2 mata pelajaran yang dipegang, Biologi
dan Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH).
Pada suatu hari, saat masih di sekolah tiba-tiba mendapat telepon,
panggilan dari Bank di Cirebon. Dan ternyata besok harus hadir disana. Bingung
lah, disini masih ada yang harus dibereskan, dan kebetulan diminta untuk
membeli alat praktikum dari salah satu dosen UPI, dan saya sudah membuat janji
dengan beliau. Tapi ya akhirnya cari cara untuk bisa izin besok. Setelah urusan
di sekolah beres, saya pun langsung pulang, siap-siap perjalanan malam Bandung-Majalengka
dan esoknya dilanjut ke Cirebon.
Singkat cerita, akhirnya diterima di salah satu Bank dan menjalani
rutinitas di kantor yang pekerjaannya masih sangat asing. Bukan hal yang mudah
untuk beradaptasi lagi dengan keasingan. Pesimis? Rendah diri? Malu? Ya
semuanya dirasakan. Tumplek semua rasa ga karuan. Bener ga kerja disini
teh.Yakin bisa gitu? Ga dipungkiri, menangis dan merasa dikucilkan pernah
dialami. Sudahlah, beres kontrak 1 tahun saya resign saja. Siapkan lagi
administrasi untuk pendaftaran s2. Heuuummm,,, Tapi ternyata rencana pun
berubah. Mungkin memang benar, setelah merasakan dunia kerja terkadang godaan
untuk lanjut pendidikan makin terasa. Sudah malas mengurus persyaratan, harus
minta rekomendasi dosen, harus ini itu, dll. Tapi saya masih ingin tetap lanjut
s2, ga mau ketinggalan jauh. Dan pada akhirnya iseng coba daftar di sebuah
perguruan tinggi swasta. Kerjaan masih ingin tetap jalan, tapi pendidikan pun
ga kalah juga. Syukur alhamdulillah... Walau semuanya harus serba perlintasan,
yang terpenting saya masih ingin banyak belajar. Jarak Cirebon-Bandung pun
harus selalu ditempuh setiap minggu. Segala cerita kemacetan, dan perjalanan
yang tidak mengenakan sudah ditelan. Weekend tersita oleh perjalanan, kumpul
bersama keluarga pun sungguh sulit. Tapi alhamdulillah bukan sekedar kuliah biasa yang penuh idealime dan ego, banyak pelajaran yang bisa dipetik, sharing pengalaman, menambah silaturahmi memperat rasa kekeluargaan. Dan ternyata ga kerasa udah di penghujung
acara, insya allah harus segera dituntaskan. Banyak list yang ingin
direalisasikan.
Di tempat kerja pun ternyata Allah kembali menyapa lewat KuasaNya, tahun
pertama setelah menjadi pegawai tetap, disaat merasa terpuruk dengan rutinitas
pekerjaan, penilaian IKP dan segala seluk beluk tentang layanan menunjukkan
hasil yang mencengangkan bagi saya. Syukur alhamdulillah mendapatkan hasil
memuaskan. Dan tahun ini, syukur alhamdulillah mendapat kepercayaan untuk
menerima penghargaan “The Service Excellence 2015”. Allah memberikan kesempatan
untuk mengikuti seleksi (Apresiasi Layanan Cabang) ALC 2015. Semoga hadiah Umroh bisa diperjuangkan.
Bismillah.
Tak pernah ada yang tau ujungnya seperti apa, yang terpenting saat ini,
saya berusaha sebaik mungkin menjalani kehidupan yang telah dipilih. Hadapi dengan
penuh kesyukuran agar semakin berkah.


Subhanalloh....
BalasHapus