Selasa, 22 Desember 2015

Aku dan Duniaku

Hasrat untuk menulis tiba-tiba membuncah, bukan fiksi tapi nyata ingin berbagi. Pengalaman sendiri, anggap sebagai muhasabah diri. Menjelang penghujung tahun, menyambut awal tahun baru. Tak ada salahnya ku pikir tuk merefleksikan setiap hikmah kehidupan. Dengan segala kerendahan hati, mohon maaf bila ada yang tidak berkenan. Ini hanya sekedar menuangkan kata lewat tulisan, tak ada embel-embel apapun, mohon disikapi dengan bijak, bukan untuk dibajak apalagi dihujat.  Terima kasih.

Kuawali dengan bismillah, semoga kebaikan selalu tercurah untuk kita semua.

Cerita awal dari bayi sampai dewasa simpan untuk garapan selanjutnya saja, syukur-syukur bisa dijadikan biografi. Jadi kuputuskan mengawali rentetan cerita dari saat SMA saja , maaf kalau tidak sesuai kaidah Bahasa Indonesia, ejaan acakadul, gaya tidak formal, hanya  sekedar celoteh cuap-cuap, tapi semoga tak mengurangi isi hikmah.

Setelah lulus SMP, hendak kemana melanjutkan pendidikan? Ada tawaran program PSUB (Penerimaan Siswa Unggul Berprestasi )  kalau tidak salah namanya, yang diselenggarakan SMA Negeri 1 Majalengka. Ya sepertinya pernah berkunjung ke sekolah itu saat ada perlombaan Bahasa Inggris tingkat SMP. Tak ada salahnya coba ikut daftar. Tanpa tau riwayat dan profil sekolahnya, sekedar tahu info katanya sekolah favorit. Diterima syukur Alhamdulillah, kalau ternyata belum rezekinya ya tak apa sekolah di SMA sebelah SMP saja pikirku. Bukan jaminan, tempat sekolah favorit  jadi acuan masa depan. Semua prestasi dihasilkan oleh individu itu sendiri. Ya walaupun memang fasilitas pun bisa menunjang, dan bisa jadi makin berkembang jika ditempat yang lebih baik. Singkat cerita, berdasarkan hasil pengumuman Alhamdulillah aku diterima di SMA 1 Majalengka.

Jarak dari rumah agak lumayan jauh, perlu beberapa kali transportasi. Nampaknya perlu ngekost, tapi karena kebetulan ada paman dan bibi yang tinggal lebih dekat jaraknya ke sekolah. Jadilah anak rantau ceritanya, walau masih rantau abal-abal.

Mengawali perjalanan SMA dengan acara kegiatan MOS (Masa Orientasi Sekolah). Kok pake persyaratan aneh-aneh segala, ini itu apa namanya kaya teka-teki, bikin aksesoris apalah-apalah. Paman dan bibi pun ikut terlibat, bantu menyiapkan sesajen buat ritual tahunan yang mengatasnamakan masa pengenalan sekolah, dengan iming-iming peralihan perlu adaptasi. Duh rempong bener,,,,
Anggap saja kegiatan  MOS berakhir, cerita lain menunggu. Duh, dapet kelas dimana, tar temennya siapa, nanti belajarnya gimana. Si aku yang minderan orangnya, pendiem,kikuk dengan lingkungan baru makin ga karuan lihat orang lain yang kebanyakan orang “kota”, sedangkan saya hanyalah anak bawang dari pedesaan.

Ternyata ada seleksi untuk kelas RSNBI (Rintisan Sekolah Nasional Berstandar Internasional), ya sebelumnya pernah dengar SMA ini ada kelas unggulan nya. Merasa tertantang, ingin mengasah kemapuan juga. Di satu sisi minder sangat, tapi di sisi lain ingin membuktikan bahwa saya bisa bersaing dengan mereka anak-anak “kota”. Sebelum tes, saya mencoba belajar sebisanya, minjem buku ke saudara karena buku-buku sebelumnya ada dirumah, tak ada waktu untuk pulang ke rumah.
Dengan meminta doa dari kedua orang tua dan keluarga, bismillah saya ikut tes. Ada tes tertulis, dan ada juga tes praktek. Tes prakteknya pasang komponen komputer agar bisa nyala, untung ga konslet. Terombang-ambing antara  pesimis dan dan ingin lolos, itu yang selalu melanda diri.

Disaat merasa pesimis, Allah memberikan amanah, Alhamdulillah lolos dan masuk kelas eksklusif (ceritanya). Rentetan tuntutan ini itu pun bermunculan, pulang lebih sore dibanding yang lain, tugas lebih dari yang lain,ya ditempatkan di ruangan yang lebih dari yang lain di Laboratorium Bahasa. Saking eksklusifnya, justru malah terasa terisolasi kurang bersosialisasi dengan kelas lain, itu yang saya rasa ditambah karena kurang membuka diri dan berinteraksi dengan teman lainnya lewat organisasi atau ekskul lainnya.
Wow, begini ya rasanya belajar di kelas RSNBI. Lirik kanan kiri semuanya keliatan berbobot. Mulai lah mencari teman yang sekiranya sehati untuk sama-sama berjuang dan bertahan.Dan ya Alhamdulillah memiliki genggong sepermainan yang menghiasi warna kehidupan. Awal-awal waktu sungguh membuat kepala pening. Pulang sore, PR numpuk, ini itu kudu in English, ada English Day, bla bla bla dll. Mampukah aku bertahan? Sanggupkah untuk berlanjut? Akankah terus berjuang? Ataukah terhenti?

Sisi rapuhku kembali hadir, air mata pun mengiringi. Hendak bagaimana ini??? Perlu rasanya untuk mendapat pencerahan, ku beranikan bicara pada orang tua. Mengadu pada Ilahi, hanya itu jalan keluarnya jawab mereka. Baiklah, akan ku temukan jalan terbaiknya dengan bercumbu menengadah memohon padaNya. Semoga Allah segera memberi jawaban.

Selang beberapa waktu, sempat ku utarakan untuk pindah sekolah. Ya aku ingin pindah sekolah saja. Entah apa yang membuatku begitu tertekan sehingga merasa  pada titik bawah. Semoga keputusan ini bukan sekedar emosi sesaat. Satu semester pun terlewati berada di kelas RSNBI.  Kecamuk hati pun kembali mendera di saat pembagian raport. Pesimis, takut,khawatir,sedih, campur aduk. Dan disebutkan lah yang menempati rangking teratas. Ah, sudahlah aku tak mungkin berada di deretan atas. Dan sungguh menghentakkan pikir, saat namaku disebut. Ya  namaku disebut setelah yang pertama.

Allah kembali menegur ku, disaat ku merasa terbawah, Allah memberikan jawaban terindah. Hendak kemana kau berjalan sekarang? ?? Masih mengelak? Subhanallah walhamdulillah… Allah memeluk ku dengan Kuasanya. Air mata penuh haru tak mampu dibendung, tumpah ruah segala  kecamuk hati. Allah kembali memberikan amanahNya, mana mungkin aku ingkari. Mempertahankan lebih sulit daripada meraih,tapi saya harus tetap berusaha jadi yang terbaik.

Keinginan untuk pindah sekolah pun akhirnya pudar, yang harus dibenahi justru agar bisa tetap bertahan, bukan melarikan diri. Baiklah, babak baru pun dimulai. Mulai dinikmati, walau lelah kadang menyapa. Beranikan diri mengexplore kemampuan, suka pelajaran eksak, kecuali Fisika. Sepertinya senang dengan Biologi, maka coba ikut segala tes berbau Biologi. Alhamdulillah, pernah menorehkan prestasi menjadi kebanggaan penuh rasa syukur. Tapi ya saya masih tetap minder, mungkin sudah karakternya.

Singkat cerita,pengalaman di SMA akan berakhir harus berlanjut ke jenjang selanjutnya. Kebingungan pun melanda kembali. Hendak kemana kau wahai diri? Sejak kecil, cita-cita yang sering didengungkan adalah Dokter. Ya setiap anak pun mungkin bercita-cita sama. Oke, mari gapai cita-cita. Kuliah kedokteran, bismillah. Dimana? UGM? UI? Wah ketinggian ga ya? Pesimis duluan kumat. Ah ada kenalan di UIN Jakarta katanya ada Kedokteran disana. Libur sekolah pun dipakai untuk survey, sekalian silaturahmi sama keluarga di Jakarta dan bertemu teman di UIN Jakarta. Orang tua pun mengizinkan aku untuk berangkat liburan tahun baru di Jakarta. Diantar saudara ke kampus UIN, sampai disana masuk ke ruangan apa namanya entah. Bertemu dengan salah satu staff, tak mau melewatkan kesempatan beranikan bertanya info Jurusan Kedokteran, minta brosur. Sayangnya UIN Jakarta tidak kerja sama dengan SMA saya waktu itu, jadi tidak ada seleksi intern.

Bismillah ambil Kedokteran. Sambil menunggu kelulusan dan  seleksi SPMB, ada banyak penawaran tes dari berbagai universitas. Niat awal saya, kalau tidak Kedokteran ya apapun yang masih lingkup dunia kesehatan. Tiba-tiba ada pendaftaran PMDK dari UPI, ragu tapi ya sudahlah ikut saja, orang lain sudah banyak daftar sana sini sedangkan saya belum. Pilihan pun jatuh pada jurusan Pendidikan Biologi, ya ilmu dasar untuk dunia kesehatan gumamku. Toh saya memang suka Biologi, makin termotivasi dengan salah satu guru Biologi yang jadi inspirasi saya untuk menjadi guru, guru yang mengayomi disenangi para murid. Daftar ke Poltekkes Bandung pun pernah diikuti, namun tidak dilanjut tes.

Kelulusan sudah diumumkan, semua disibukkan untuk mempersiapkan tes SPMB. Saya pun daftar bimbel, rencananya mau ikut tes SPMB, siap-siap untuk UGM. Selang beberapa hari kemudian, pengumuman PMDK UPI pun keluar. Dan nama saya tertulis lolos. Tahap selanjutnya harus daftar ulang. 

Lagi-lagi dihadapkan pada pilihan yang harus dipilih, dilema, bingung, bimbang. Keyakinan pun diuji dengan munculnya pilihan baru. Lanjut daftar ulang UPI, atau menunggu SPMB memilih Kedokteran??? UPI? Tanpa tes sudah bisa langsung duduk manis, kurang bersyukur apalagi? Kedokteran? Harus melewati serangkaian tes, entah keterima atau tidak, dan biaya nya pun.... Wow,,, Heeuumm,,, mikir lagi... Dan pada akhirnya memilih Jurusan Pendidikan Biologi UPI. Ya bismillah,,,

Daftar ulang sendirian, planga plongo kesana kesitu sendiri, bejubel padat penuh merayap yang pada daftar ulang. Alhamdulillah, memilih UPI memberikan energi positif. Berawal dari pertemuan dengan kakak kelas yang dikira kakak kembar,yang katanya mirip sama beliau. Subhanallah,,, tersirat hasrat saya ingin seperti beliau. Akhwat luar biasa, cerdas,aktif, inspiratif pokoknya bagi saya. Alhamdulillah dipertemukan dengan beliau.

Salah satu perubahan yang saya lakukan adalah penampilan. Saya coba mengumpulkan rok, ya saya akan menggunakan rok ke kampus, nampak terlihat lebih anggun. Dan memang sudah diniatkan untuk belajar lebih baik lagi tentang Islam. Bismillah, babak baru pun dimulai.... Inti cerita saja ya, tak perlu banyak diceritakan karena terlalu panjang dan lama untuk mengulik kehidupan saat  kuliah apalagi membeberkan semua kisah.

Kuliah di Biologi, syukur alhamdulillah. Banyak pembelajaran, mengetahui seluk beluk sistem tubuh manusia,hewan, dan tumbuhan. Belajar anatomi, fisiologi, botani, zoologi, dll banyak lah macamnya mata kuliah yang diambil. Dan woooowwww,,, subhanallah walhamdulillah. Banyak kekuasaan Allah yang membuat tercengang. Ada kata-kata menarik yang menggelitik, “Cintailah Biologi, karena dengan mencintai Biologi maka kamu akan mencintai kehidupan”. Ya itu benar, saya alami sendiri. Walau dengan segala macam rintangan di setiap semesternya, namun akhirnya bisa telewati dengan baik. Pengalaman kuliah lapangan, panas-panasan, nyemplung ke air, masuk ke hutan dsb. Itu pengalaman sangat berkesan. Karena jurusan nya bertitle kan “Pendidikan”, maka belajar pula lah tentang seluk beluk mendidik. Guru bukan sekedar mengajar menyampaikan materi atau transfer ilmu semata, tapi ada ini itu dll. Bukan profesi yang gampang namun pekerjaan yang mulia. Subhanallah....



Singkat cerita, ujian skripsi beres tinggal menunggu selebrasi wisuda. Wah, melamar kerja dimana ya. Teman-teman yang lain sudah banyak yang duluan bekerja paruh waktu di bimbel. Tapi entah kenapa saya kurang berminat.

Orang tua pernah berpesan, lebih baik cari tempat mengajar di kota saja, jangan kembali ke tempat asal. Atau sekalian langsung melanjutkan ke jenjang s2. Heeuumm,,, menarik. Baiklah akan saya coba. Ya saya berencana lanjut s2, UPI atau ITB?? Coba dua2nya saja pikirku. Alhamdulillah ada sedikit celah menuju realisasi s2 itu. Salah satu dosen pembimbing memberikan semacam proyek penelitian beliau, saya dan teman saya diberikan tugas untuk membantu mengolah data. Heuumm,,, lumayan bisa meminta rekomendasi beliau juga untuk persyaratan daftar s2. Selain itu, beres revisi skripsi, tiba-tiba salah satu dosen penguji memanggil dan meminta  bantuan untuk menjadi semacam asisten praktikum di kelas pasca sarjana. Alhamdulillah.... Menambah wawasan dan pengalaman. Sambil menunggu wisuda, sampingan ikut jadi asisten praktikum di kelas pasca sarjana, dan mendapat info lowongan mengajar di sebuah sekolah swasta di Cimahi. Alhamdulillah,,,satu per satu harapan terjawab pikirku, soalnya pernah terujar ingin mengajar di Bandung atau sekitar Cimahi.

Waktu itu jadwal ngajar di sekolah hanya hari Senin dan Rabu dan Selasa jadi asisten praktikum, 3 hari stay di Bandung selebihnya aku pulang ke rumah dan mengajar di SD tempat ayah dinas. Kebetulan kedua orang tua sedang melaksanakan ibadah haji, jadi masih bolak-balik Bandung-Majalengka, ngurus rumah dan adik. Pulang pergi Bandung-Majalengka setiap minggu tak dirasa cape karena ada tanggung jawab yang diemban. Sekitar 2 bulan menjalani peran sebagai guru mengajar di sekolah, ada yang memberi info lowongan kerja di Bank untuk penempatan di Cirebon. Heuumm,, coba saja pikir ku. Iseng-iseng nambah pengalaman merasakan menjadi pelamar kerja. Tak lupa titip doa kepada orang tua yang sedang beribadah di Mekkah. Doa mereka pastilah yang terbaik untuk anak-anaknya. Syukur alhamdulillah momennya terasa pas. Semoga segala doa yang dipanjatkan diijabah Allah. Dan ternyata seleksi di Bank pun satu per satu dilewati. Sempat terlupakan karena pengumuman lumayan cukup lama, dan saya pun sudah mulai menikmati peran jadi guru. Wacana akan dijadikan guru tetap di sekolah tersebut pun sudah didengungkan. Jadwal mengajar pun mulai padat, karena mendapat lebih banyak kelas dan 2 mata pelajaran yang dipegang, Biologi dan Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH).

Pada suatu hari, saat masih di sekolah tiba-tiba mendapat telepon, panggilan dari Bank di Cirebon. Dan ternyata besok harus hadir disana. Bingung lah, disini masih ada yang harus dibereskan, dan kebetulan diminta untuk membeli alat praktikum dari salah satu dosen UPI, dan saya sudah membuat janji dengan beliau. Tapi ya akhirnya cari cara untuk bisa izin besok. Setelah urusan di sekolah beres, saya pun langsung pulang, siap-siap perjalanan malam Bandung-Majalengka dan esoknya dilanjut ke Cirebon.

Singkat cerita, akhirnya diterima di salah satu Bank dan menjalani rutinitas di kantor yang pekerjaannya masih sangat asing. Bukan hal yang mudah untuk beradaptasi lagi dengan keasingan. Pesimis? Rendah diri? Malu? Ya semuanya dirasakan. Tumplek semua rasa ga karuan. Bener ga kerja disini teh.Yakin bisa gitu? Ga dipungkiri, menangis dan merasa dikucilkan pernah dialami. Sudahlah, beres kontrak 1 tahun saya resign saja. Siapkan lagi administrasi untuk pendaftaran s2. Heuuummm,,, Tapi ternyata rencana pun berubah. Mungkin memang benar, setelah merasakan dunia kerja terkadang godaan untuk lanjut pendidikan makin terasa. Sudah malas mengurus persyaratan, harus minta rekomendasi dosen, harus ini itu, dll. Tapi saya masih ingin tetap lanjut s2, ga mau ketinggalan jauh. Dan pada akhirnya iseng coba daftar di sebuah perguruan tinggi swasta. Kerjaan masih ingin tetap jalan, tapi pendidikan pun ga kalah juga. Syukur alhamdulillah... Walau semuanya harus serba perlintasan, yang terpenting saya masih ingin banyak belajar. Jarak Cirebon-Bandung pun harus selalu ditempuh setiap minggu. Segala cerita kemacetan, dan perjalanan yang tidak mengenakan sudah ditelan. Weekend tersita oleh perjalanan, kumpul bersama keluarga pun sungguh sulit. Tapi alhamdulillah bukan sekedar kuliah biasa yang penuh idealime dan ego, banyak pelajaran yang bisa dipetik, sharing pengalaman, menambah silaturahmi memperat rasa kekeluargaan. Dan ternyata ga kerasa udah di penghujung acara, insya allah harus segera dituntaskan. Banyak list yang ingin direalisasikan.


Di tempat kerja pun ternyata Allah kembali menyapa lewat KuasaNya, tahun pertama setelah menjadi pegawai tetap, disaat merasa terpuruk dengan rutinitas pekerjaan, penilaian IKP dan segala seluk beluk tentang layanan menunjukkan hasil yang mencengangkan bagi saya. Syukur alhamdulillah mendapatkan hasil memuaskan. Dan tahun ini, syukur alhamdulillah mendapat kepercayaan untuk menerima penghargaan “The Service Excellence 2015”. Allah memberikan kesempatan untuk mengikuti seleksi (Apresiasi Layanan Cabang) ALC  2015. Semoga hadiah Umroh bisa diperjuangkan. Bismillah.


Tak pernah ada yang tau ujungnya seperti apa, yang terpenting saat ini, saya berusaha sebaik mungkin menjalani kehidupan yang telah dipilih. Hadapi dengan penuh kesyukuran agar semakin berkah.