Setelah jenuh dengan segala hiruk-pikuk kota, kembali ke alam pedesaan bisa jadi salah satu alternatif refreshing bagi kita dan keluarga. Walau dalam segala kesederhanaan dan keterbatasan, suasana pedesaan penuh makna selalu membuat rindu untuk kembali. Momen lebaran dan libur panjang biasanya dijadikan ajang mudik ke kampung halaman. Pas nih, kalian pada mudik kemana Lebaran Idul Adha?
Berikut ini hal yang menjadi candu kerinduan pulang ke pedesaan:
1. Bangun di pagi hari menghirup udara segar.
Aroma pagi hari pedesaan itu memabukkan. Buka jendela ataupun keluar rumah, kita akan langsung disapa sejuknya hawa alam. Bau pepohonan yang kaya oksigen bisa kita hirup bebas secara alami tanpa ada campuran polusi. Helaan napas bertasbih memuji rahmat-Nya yang tak terkira.
2. Tak perlu khawatir bahan pengawet, bahan makanan tersaji alami.
Kita pasti berhati-hati dalam memilih makanan, apalagi banyak pemberitaan tentang bahan pengawet yang mengancam kesehatan. Bahan makanan bebas pengawet susah didapat di perkotaan. Kalau kita di desa, alam sudah menyediakan secara berlimpah bahan pangan. Padi tinggal menunggu panen, sayuran tinggal petik, ayam tinggal potong. Prosesnya pun kita saksikan langsung, jadi benar-benar aman dikonsumsi.
3. Lekat rasa persaudaraannya.
Di pedesaan rasa persaudaraannya sungguh erat. " Sadudulur" itu istilah yang dijunjung oleh orang desa. Tetangga yang berdekatan sudah dianggap keluarga sendiri. Saling membantu, gotong royong, dan saling berbagi sudah menjadi rutinitas bagi warga di desa. Di kota, orang sibuk dengan urusannya masing-masing tanpa tahu kondisi tetangga.
4. Pendidikan moral dan akhlak lebih diutamakan.
Anak-anak di perkotaan setelah beres jam sekolah biasanya disibukkan dengan berbagai les. Sedangkan di desa, saat subuh tiba anak-anak kecil sudah bangun kemudian membantu orangtua melakukan pekerjaan rumah. Siang hari pulang sekolah, mereka juga kembali membantu di rumah atau ikut ke ladang. Dan sore hari mereka mengaji di surau. Kegiatan di pedesaan lebih banyak mengasah segi kepribadian.
5. Tak banyak kontaminasi pergaulan.
Zaman sekarang yang semakin kekinian dan arus informasi berseliweran tanpa batas berdampak pada pergaulan remaja. Anak-anak ABG tanggung di daerah perkotaan terbiasa dengan hingar bingar dunia malam. Nongkrong di kafe, nonton bioskop, shopping ke mall dll. Sedangkan di pedesaan, para remaja lebih banyak melakukan kegiatan kemasyarakatan seperti panitia acara Agustusan, acara malam takbiran, gotong royong, kerja bakti dan lain-lainnya. Bahkan anak pedesaan terkadang dianggap polos, jauh dari peradaban. Padahal mereka justru punya banyak potensi.
6. Penuh kesederhanaan yang mengajarkan arti bersyukur.
Tak banyak fasilitas modern yang ditawarkan di pedesaan, namun sisi kepuasan batinnya lebih terasa. Hiruk pikuk di kota terkadang penuh intrik terutama dalam hal kerjaan. Materi terus dikejar, gengsi makin diagungkan. Hidup di desa apa adanya, lebih akrab dengan alam, lebih memaknai kehidupan. Oksigen melimpah belum banyak tercemar polusi, alam masih memberikan kedamaian, rasa persaudaraan antar warga masih erat terjaga. Saling bahu membahu memajukan desa, bukan saling menjatuhkan demi kepuasan tahta pribadi. Suara jangkrik, kodok bahkan kambing pun ikut menyemarakkan suasana pedesaan. Embun pagi hari berkolaborasi dengan turunnya kabut ikut menyambut sang mentari muncul. Maka nikmat Tuhan-Mu yang manakah yang kau dustakan?
Bagi kalian yang sedang merantau di kota, yuk pulang kampung sejenak!



Tidak ada komentar:
Posting Komentar