Jumat, 16 Januari 2015

Hikmah Mendaki (Ciremai, 26-28 Desember 2014)








Mendaki bukan bermaksud ingin menaklukan, bukan merasa menyombongkan. Bijak lah dalam menyimak hikmah, mengurai makna.  Apa yang akan kau sombongkan? Gunung sebegitu menjulang, tunduk patuh pada Sang Kuasa. Sedangkan kita? Sering kali lupa. Menempuh jalanan menanjak,terjal, berliku,penuh kerikil batu, akar melintang. Tertatih, terjatuh, tersungkur, tak mengapa. Satu tujuan pasti. Saling menguatkan, menularkan keyakinan. Bukan bersaing saling menjatuhkan untuk menginjak puncak, namun saling menggenggam bersama menggapai puncak. Berbagi makan seadanya namun nikmat sungguh terasa berbumbukan kebersamaan. Berpegangan saling menyemangati. Sejauh mata memandang, hamparan awan dan berjuta keindahan terpampang nyata. Segala lelah, keluh, kesah, menyerah, terbayar lebih oleh rangkaian panorama tak berujung.  Memandang dari atas, menundukkan hati menatap luasnya limpahan KuasaNya. Lega beralaskan damai menyaksikan rentetan kerdilnya Berbagai jalur yg berliku harus dilewati, berbagai rintangan harus diterjang. Hujan, badai, panas, dingin, ikut meramaikan suasana. Mampukah bertahan, atau menyerah turun? 

Hidup ini tak selamanya mulus, Allah akan menguji dengan segala cara yang tak pernah bisa kita bayangkan. Namun percayalah Allah mempersiapkan kado terindah bagi siapa yg lolos akan ujianNya. Tetap khusnudzon, sabar,ikhlas, ikhtiar dan berdoa.

To be continued