Bersyukur lah , renungkan kembali. Setiap langkah hidupmu,
Allah melimpahkan karuniaNya. Mungkin itu jawaban doa-doa orang terkasih, kasih
sayang tanpa pamrih, perhatian tulus yang terkadang terkalahkan oleh perhatian
semu.
Jalan hidup telah digariskan setelah kamu memilih. Kenyataan
tak selalu sama dengan harap. Namun percayalah, kenyataan membuatmu belajar,
mengeja hikmah dibalik perbedaan. Yakinkan hati, ikhlaskan dalam menerima.
Aku ya aku adalah aku seaku-akunya yang paling paling adalah
aku. Silakan kamu lakukan yang kamu suka. Tak ada niat tuk mengusik. Jika bayang
itu pernah hadir, biarkan sinar nyata menerangi. Usah kau gubris lagi kesemuan.
Tak usah ada dendam , lara itu kubur dalam keikhlasan.
Cukup tau sang bayang semu nampak tak rela ditinggalkan, terus meronta
walau telah berpijar. Mau apa lagi??? Ingin ego
menantang kepicikannya, namun nurani ku bukan lah sekerdil itu. Tak
layak sang mentari bila harus terjerumus dalam kekeruhan hati. Hanya bisa
menampakkan jelas bahwa sang mentari tetaplah ingin menjadi mentari. Ketulusan
akan nampak dengan sendirinya tanpa harus diumbar-umbar. Justru akan hilang
bila terus kau sengaja tampakkan. Aku dengan duniaku, bagi ku tak perlu
keramaian. Dalam sepi, aku merasakan damai. Tak perlu menggubris, cukup dengan optimis.
Aku punya banyak mimpi, mimpi yang bukan sekedar tentang
sesaat. Saat ini aku cukup tertatih, melatih pikir bukan untuk berdalih. Masa
yang akan datang ingin direngkuh bersama dalam kesetiaan. Setia pada janji
untuk mencapai puncak. Puncak keridoan Ilahi. Tak ingin lewatkan kesempatan,
ingin memantaskan diri. Melenceng dari rencana awal, masih ada celah tuk menuju
pada tujuan yang setara. Aku tak semata-mata mengejar kesemuan, aku inginkan
nyata membalut asa. Itulah setidaknya yang terlukiskan dalam fragmen masa
depan.
Aku berbeda, aku tak sama.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar