Selasa, 25 November 2014

Kumpulan Wejangan Abah

Allah menunjukkan dua jalan, jalan yang menanjak tajam dan penuh tetapi ujungnya adalah syurga yang seluas langit dan bumi. Dan jalan yang menurun lagi bertabur bungan namun ujungnya menanti neraka yang menyala-nyala, tapi mengapa kebanyakan manusia memilih jalan yang menurun??

Bukankah rezeki yang sedikit itu lebih berguna daripada banyak namun justru membuat lupa pada Allah??

Wanita itu tak menolak walaupun dia mengatakan belum punya pekerjaan tetap, yang dimiliki hanya sedikit cinta dan segumpal tekad untuk bertanggung jawab.

Prinsip pertaruhan itu cerminan otak kanan, otak yang tak berhenti berkreasi. Otak kanan bergaya spekulatif. Otak wirausahawan yang ambisius dan slalu memikirkan langkah-langkah brilian demi keuntungan usaha.

Bukankah kesuksesan seseorang karena berbagai trial and error, bangkit dan bangkrut, belajar dari kesalahan yang menuntut pengorbanan, dan semua itu disebut RESIKO.

Kita tak pernah sadar diri kita berubah, perubahan adalah kemestian karena tidak ada yang statis di dunia ini.

Hanya sisa waktu yang belum terjadi inilah yang patut kita rawat baik-baik agar tidak menjadi kesia-siaan.

Seorang pendaki tak mungkin berhenti di tengah jalan dalam pendakiannya. Ia harus tetap berusaha tak kenal lelah untuk mencapai puncak gunung. Untuk itulah, pengorbanan seorang pendaki tak pernah setengah-setengah, ia total dalam bekerja kerasdan bertawakal karena tak ingin mati konyol di tengah jalan.

Ceuk kolot bahela mah, hirup pinuh dodoja teh lir ibarat lempang nanjak, engke mun geus nepi ka puncak sok manggih pamandangan enak. #Doel Sumbang

Atuh sugan isuk pageto hirup urang jadi caang deui, da urang mah ukur ikhiar, hasil heunteu na mah sanggakeun wae ka nu Kagungan, tong jadi dendam,tong jadi kiruh hate, bisi hirup beuki hese. #Doel Sumbang

Tidak ada komentar:

Posting Komentar